Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
Nasional

Kronologi Nelayan Natuna Tewas Diterjang Petir, Anak Dengar Guntur dan Lihat Kilat

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 21, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

Kecelakaan Maut di Sungai Penarik, Seorang Nelayan Lansia Tewas Diduga Tersambar Petir

Peristiwa tragis terjadi di kawasan Sungai Penarik, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Seorang nelayan lansia bernama Yakuf (61 tahun) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi kaku dengan posisi jongkok di dalam air. Kejadian ini mengejutkan warga setempat dan mengundang perhatian masyarakat luas.

Yakuf adalah seorang nelayan yang biasa mencari kepiting bakau. Ia bersama anaknya melakukan aktivitas tersebut di kawasan Sungai Penarik, sebuah lokasi favorit bagi warga Desa Binjai untuk mencari penghidupan. Lokasi ini berjarak sekitar satu jam perjalanan menggunakan pompong dari desa.

Menurut informasi yang dihimpun, Yakuf dan anaknya telah berada di Sungai Penarik selama sekitar tiga hari. Mereka membangun pondok sederhana sebagai tempat istirahat sambil menjaga perangkap kepiting. Posisi sampan Yakuf berada di samping pondok tempat anaknya tinggal.

Saat kejadian, cuaca sedang gerimis dan mendekati pukul 11.00 WIB. Tiba-tiba angin bertiup kencang disertai suara guntur yang sangat keras. Anak korban menyaksikan kilatan cahaya yang terang. Beberapa saat kemudian, ia melihat ayahnya tidak lagi berada di sampan.

Panik, anak Yakuf langsung terjun ke sungai untuk mencari ayahnya. Namun pencarian awal tidak berhasil. Setelah beberapa waktu, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Jasadnya diangkat ke atas sampan dan kemudian dipindahkan ke pompong untuk dibawa pulang ke Desa Binjai.

Meski tidak ditemukan tanda-tanda luka bakar atau bekas sambaran petir yang jelas, kondisi tubuh Yakuf yang kaku dan posisi seperti jongkok menjadi pertanyaan besar. Dugaan kuat muncul bahwa korban tersambar petir, mengingat kesaksian anaknya tentang suara guntur dan kilatan cahaya yang terlihat sebelum ayahnya hilang dari sampan.

Peristiwa yang Menggemparkan Warga

Kepala Desa Binjai, Abdul Rosyid, menjelaskan bahwa para pencari kepiting di kawasan tersebut biasa bermalam selama beberapa hari. Oleh karena itu, mereka membangun pondok sederhana sebagai tempat istirahat. Menurutnya, Yakuf dan anaknya tidak memiliki alat komunikasi yang memadai, sehingga sulit untuk mempercepat proses evakuasi.

Rosyid juga menyampaikan bahwa tidak ada tanda-tanda luka yang signifikan pada tubuh korban. Hanya terdapat luka goresan kecil di bagian bahu. Meski demikian, posisi tubuh yang kaku dan tidak biasa memicu dugaan kuat tentang penyebab kematian Yakuf.

Imbauan Keselamatan untuk Warga

Kejadian ini menjadi peringatan bagi warga yang bekerja di laut atau sungai. Kepala Desa Binjai mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap cuaca buruk dan mengutamakan keselamatan. Ia menyarankan agar warga segera berteduh jika cuaca mulai memburuk dan tidak mengabaikan ancaman alam seperti petir.

Yakuf dikenal sebagai sosok pekerja keras dan ramah kepada sesama. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga Desa Binjai. Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya kesadaran akan risiko yang tersembunyi dalam lingkungan alam yang sering kali tidak terduga.

Kehidupan di Sungai Penarik

Sungai Penarik bukan hanya sekadar lokasi pencarian kepiting, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga. Aktivitas nelayan di kawasan ini dilakukan secara tradisional, dengan metode penangkapan yang sederhana namun efektif. Meski begitu, risiko terhadap cuaca ekstrem dan ancaman alam tetap menjadi hal yang harus diwaspadai.

Dengan adanya kejadian ini, diharapkan masyarakat lebih sadar akan pentingnya persiapan dan kesadaran akan bahaya alam. Selain itu, upaya-upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang cara menghadapi cuaca buruk juga perlu diperkuat.

Artikel Pilar Terkait