Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
sosial

Sepekan Terisolasi, Warga Reje Payung Bangun Jembatan Apung dari Donasi

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 27, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit
Ringkasan Berita:
  • Pembangunan jembatan darurat ini memanfaatkan drum plastik, papan kayu, dan tali yang diikat untuk menghubungkan dua sisi sungai.
  • Semua bahan tersebut diperoleh dari dana sumbangan para donatur sebesar Rp 25 juta.
  • Kepala Desa (Reje Kampung) Reje Payung, Sejahtera, menyampaikan perasaan haru dan ucapan terima kasih kepada masyarakat luas yang bersedia membagikan rezeki mereka.

Liputan Jurnalis Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

BERITA KPA -, TAKENGON –Warga Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, kembali terpaksa turun ke sungai untuk memperjuangkan harapan hidup yang sempat terhenti.

Setelah hampir seminggu terisolasi sepenuhnya akibat jembatan darurat sebelumnya rusak dan terbawa oleh banjir sungai.

Maka warga sekitar berkolaborasi membangun kembali jembatan apung secara mandiri, Sabtu (27/6/2026).

Pembangunan jembatan darurat ini memanfaatkan drum plastik, papan kayu, dan tali yang diikat untuk menghubungkan dua sisi sungai.

Semua bahan tersebut diperoleh dari dana sumbangan para donatur sebesar Rp 25 juta.

Kepala Desa (Reje Kampung) Reje Payung, Sejahtera, menyampaikan perasaan haru dan ucapan terima kasih kepada masyarakat luas yang telah berkenan menyisihkan rezekinya.

Bagi dia, bantuan itu bukan hanya berupa barang, tetapi menjadi penyelamat bagi ratusan warga yang sempat terjebak tanpa akses ke luar selama beberapa hari terakhir.

Kami sangat mengapresiasi para individu yang baik hati yang telah menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk pembangunan jembatan kami ini.

Alhamdulillah, berkat bantuan ini kami kembali mampu membangun jembatan apung seperti dulu,” kata Sejahtera kepada Wartawan KPA NEWS di Aceh Tengah.

Pembangunan jembatan mengambang ini menjadi bagian dari perjuangan kedua masyarakat setempat.

Sebelumnya, jembatan yang serupa pernah dibangun oleh relawan pasca-bencana.

Namun, setelah bertahan selama delapan bulan, struktur jembatan yang mulai rusak akhirnya kalah oleh desakan air sungai yang deras hingga hancur dan terbawa arus.

Jembatan Mengambang Satu-satunya Jalur Pergerakan

Bagi masyarakat Reje Payung serta beberapa desa sekitar di Kemukiman Wih Dusun Jamat, jembatan darurat ini merupakan taruhan untuk kelangsungan hidup mereka.

Tidak adanya jembatan tetap hingga saat ini menyebabkan mereka mengandalkan jembatan apung sebagai satu-satunya jalur transportasi untuk masuk dan keluar desa.

Sejahtera menekankan, jembatan ini merupakan jalur utama bagi warga yang tidak dapat dipertanyakan lagi.

Posisi geografis permukiman yang berada di seberang sungai menyebabkan mereka sepenuhnya tidak bisa bergerak ketika jembatan itu hilang.

“Jembatan ini adalah jalur utama bagi warga di sini. Tanpa adanya jembatan, kami tidak mungkin melakukan kegiatan apa pun karena lokasi wilayah kami berada di seberang sungai,” tambah Sejahtera.

Jembatan mengambang itu diumumkan selesai dibangun pada sore hari ini dan sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Namun, perbaikan lebih lanjut akan dilakukan pada hari Minggu (28/6/2026) pagi agar kendaraan roda dua dapat melintas dengan lebih aman.

Desa Reje Payung Wilayah Paling Terdampak Bencana Hidrometeorologi

Desa Reje Payung adalah salah satu area yang mengalami dampak paling berat akibat bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu.

Bencana tersebut tidak hanya meninggalkan luka batin, tetapi juga menghilangkan tempat tinggal, lahan pertanian, serta perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Di tengah situasi ekonomi yang semakin memburuk, masyarakat merasa harus berjuang sendiri karena fasilitas tetap yang diharapkan belum juga disiapkan oleh pemerintah.

Kesejahteraan berharap pemerintah daerah serta pusat memberikan perhatian nyata terhadap masalah yang telah berlarut-larut ini.

“Kami berharap pemerintah benar-benar serius dalam menangani bencana ini agar nasib masyarakat tidak terlalu berat untuk pulih kembali,” ujar Sejahtera. (*)

Artikel Pilar Terkait