KEPRI NEWS, SIANTAR– Peristiwa kekerasan terjadi di Kota Siantar, Sumatra Utara, pada malam 28 Mei 2026.
Pemuda bernama Jannes Malau meninggal dunia karena menjadi korban pengeroyokan oleh enam orang yang tidak dikenalnya di Taman Bunga Siantar.
Tempat kejadian berada tepat di depan Kantor Wali Kota Siantar dan tidak terlalu jauh dari Polres Siantar.
Kepala Kepolisian Resor Siantar, AKBP Sah Udur Sitinjak menyatakan bahwa Jannes Malau adalah korban yang disasar secara salah.
Para tersangka melakukan pukulan akibat masalah uang tato.
Namun menyedihkannya, korban bukanlah pria yang menjadi sasaran tersebut.
Kronologi
Udur mengungkapkan, kasus ini dimulai ketika tersangka menggunakan mobil Daihatsu Sigra.
Mereka mengambil Marten yang memiliki masalah terkait uang tato bersama Hengki, teman tersangka.
Pada pertemuan tersebut, Marten meminta maaf dan berjanji akan mengembalikan sebagian dana yang diminta.
Kelompok tersangka kemudian kembali ke area Taman Bunga dan mencari perkelahian dengan Jannes Malau.
Meskipun Jannes Malau tidak memahami masalah tersebut.
Seorang tersangka mengancam korban dan mengajukan pertanyaan dengan nada yang bersifat menantang.
Tidak lama setelah itu terjadi sentuhan fisik.
Dalam hitungan menit, seseorang menghadapi sekelompok orang.
“Hasil penyelidikan menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan secara bersama terhadap korban hingga menyebabkan kematian,” ujar Kapolres.
Kalimat tersebut menjadi petunjuk untuk mengerti mengapa kasus ini tidak disusun sebagai pertengkaran biasa.
Saksi Marten Haloho mengatakan korban menerima pukulan dan tendangan secara bersamaan selama beberapa menit.
Saksi Rico Armando Purba juga menyaksikan korban menjadi sasaran pengeroyokan oleh beberapa orang sebelum akhirnya ia pergi dari tempat kejadian karena merasa takut.
Para korban terus-menerus menerima pukulan, terus-menerus mendapat tendangan, bahkan kembali menjadi target kekerasan setelah berusaha kabur.
Kemudian Korban dibawa masuk ke dalam mobil.
Di kondisi terluka, korban masih berupaya membebaskan diri dengan melompat keluar dari kendaraan hingga terjatuh ke permukaan jalan.
Namun upaya itu gagal.
Pelaku kembali ditangkap dan kembali mengalami penganiayaan.
Keterangan tersangka menyebutkan bahwa korban sedang berbaring di atas aspal saat masih menerima pukulan dan tendangan.
Setelah korban tidak mampu bergerak, pelaku membawanya ke Rumah Sakit Vita Insani.
Namun, korban tidak segera mendapatkan perawatan medis.
Berdasarkan keterangan tersangka, rumah sakit tersebut menolak menerima korban dengan alasan dianggap sebagai kasus penikaman.
Alih-alih segera mencari pengobatan medis tercepat, korban justru dibawa kembali berkeliling menuju wilayah Parluasan.
Di tempat itu, korban dipindahkan dari mobil ke gerobak barang sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Djasamen Saragih.
Saat korban akhirnya tiba di rumah sakit, dua orang yang membawanya tidak mengakui diri mereka sebagai keluarga korban dan kemudian pergi dari tempat tersebut.
Dua hari setelahnya, Malau dinyatakan telah meninggal.
4 orang masih kabur
Petugas kepolisian telah menetapkan 6 orang sebagai tersangka.
Dua orang berhasil ditangkap, sementara empat lainnya masih dalam keadaan hilang.
Para tersangka dilaporkan terlibat dalam organisasi masyarakat (ormas) Ikatan Pemuda Karya (IPK) Kota Pematangsiantar.
Enam orang ditetapkan sebagai tersangka karena adanya bukti yang memadai. Penyidikan masih berlangsung dan empat tersangka lainnya yang belum ditangkap masih dalam pencarian,” kata Sah Udur Sitinjak, Jumat (19/06/2026).
Keluarga minta bantuan presiden
Sari Agustina Malau (25) meminta keadilan terkait kematian saudaranya.
Setelah hampir sebulan berlalu, Sari Agustina Malau tampak meminta kepada Presiden Prabowo Subianto melalui akun Instagramnya @sarimalau06, pada Sabtu (20/6/2026), agar memberikan perhatian terhadap kasus yang menyebabkan kematian adiknya.
Berikut adalah keluhan hati Sari Agustina Malau yang ditujukan kepada Presiden Prabowo yang terlihatTribun-medan.com, dan telah mendapatkan izin untuk tayangan.
“Untuk Bapak Presiden yang saya sayangi, Bapak Prabowo Subianto.
Pak, saya adalah salah seorang warga yang sangat mengagumi Bapak, meskipun saya hanyalah orang miskin, suara saya hadir saat pemilihan Bapak menjadi Presiden pada masa itu.
Pak, di sini saya berjuang demi keadilan terkait kematian adik saya, saya berjuang dan bersuara agar kami orang-orang miskin ini mendapatkan keadilan serta hukum yang jujur. Saya tidak meminta nyawa adik saya dikembalikan, tetapi saya hanya menuntut agar semua pelaku yang membunuh adik saya dengan kejam dihukum seberat-beratnya.
Pak, adikku dibunuh di depan umum dan menjadi sasaran ejekan mereka, adikku memohon agar nyawanya tidak diambil oleh mereka tetapi mereka tetap mengambil nyawa adikku. Saya tidak memiliki kekuatan atau latar belakang yang kuat, tapi saya memiliki Bapak Presiden yang selalu memberikan keadilan kepada kami masyarakat kecil ini.
Pak, adikku dibunuh seperti PKI, mereka menyiksa adik saya sampai merasa puas lalu membawa kembali adik kami yang kami tidak tahu ke mana dia dibawa.
Pak, bagi mereka nyawa adikku tidak bernilai karena kami adalah orang miskin yang tidak akan diperhatikan siapa pun. Namun, aku percaya bahwa Bapak dapat memberikan keadilan atas kematian adik kami.
Pak, saya berbicara karena proses hukum berjalan sangat lambat, kami selalu diminta untuk bersabar. Lalu, sampai kapan kami harus menunggu, Pak? Polres Pematang Siantar belum juga membuka rekaman CCTV kejadian pada malam itu. Bahkan, Kapolres Pematangsiantar memberikan informasi yang salah tentang motif kematian adik kami kepada media saat konferensi pers di Polres Pematang Siantar. Kami hanya meminta keadilan, kepastian hukum, serta proses hukum yang transparan.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Beginilah isi hati saya, Pak. Semoga Bapak selalu sehat dan dilindungi oleh Tuhan, serta kebaikan-kebaikan senantiasa menyertai setiap hari Bapak. 2. Inilah perasaan saya, Pak. Semoga Bapak tetap sehat dan selalu berada dalam lindungan Tuhan, serta kebahagiaan menghiasi hari-hari Bapak. 3. Ini adalah isi hati saya, Pak. Mudah-mudahan Bapak selalu dalam kesehatan dan perlindungan Tuhan, serta hal-hal baik terus menghampiri kehidupan Bapak. 4. Berikut isi hati saya, Pak. Semoga Bapak selalu sehat dan dilindungi oleh Tuhan, serta kebaikan-kebaikan senantiasa hadir dalam setiap hari Bapak. 5. Inilah yang ingin saya sampaikan, Pak. Semoga Bapak selalu dalam kondisi sehat dan berada di bawah perlindungan Tuhan, serta kebaikan-kebaikan terus menghiasi hari-hari Bapak. (*)
Artikel ini sudah diterbitkan diTribunnews.comdengan judul Jannes Malau Dianiaya 6 Orang hingga Meninggal Dunia: Ternyata Salah Tujuan, Kapolres Mengatakan Masalah Uang Tato
Artikel Pilar Terkait
Ringkasan Berita: Titik mengakui anak-anaknya menjadi korban intimidasi setelah video Armuji menyebar. Perundungan diketahui memengaruhi kondisi mental siswa…
Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika pengelolaan parkir di Kabupaten Karimun menjadi sorotan publik. Di tengah berbagai narasi yang…
Ringkasan Berita: Pihak Satlantas Polrestabes Surabaya membenarkan bahwa korban yang meninggal dunia adalah seorang penumpang dengan inisial SM,…
Kepri KPA NEWS -Ex-Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, secara resmi ditetapkan sebagai…
Berita KPA Kepri, Batam– Sejumlah warga Batam yang mengaku terdampar di Kamboja karena tidak mampu membayar biaya pulang…
Ringkasan Berita: Anak perempuan berusia 9 tahun dari Setu, Kabupaten Bekasi, tertembak peluru tak sengaja saat bermain dan…
Kepri KPA BERITA - CO.ID - JAKARTA.Tim Penindakan Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Polri sedang melakukan penyelidikan terkait dugaan…
Ringkasan Berita: Menurut Bahlil, secara regulasi, wewenang pengelolaan wilayah kerja migas South Andaman berada di bawah pemerintah pusat,…