Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
sosial

Gunungan Panen Diantarkan dalam Aksi Dukung MBG di Purwokerto

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 27, 2026 · 4 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 4 menit

KPA NEWS -, PURWOKERTO–  Gunungan yang berisi hasil panen sayuran, buah-buahan, serta berbagai komoditas pertanian menjadi simbol dalam aksi damai mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan Aliansi Masyarakat Banyumas Bersatu di Alun-Alun Purwokerto, Sabtu (27/6/2026).

Gunungan yang dibawa oleh ratusan petani bukan hanya sebagai simbol protes.

Di balik tumpukan hasil panen tersebut, para petani, peternak ikan, pengusaha UMKM, serta relawan Program MBG menyampaikan kekhawatiran yang sama, yaitu berkurangnya pasar sejak program MBG dihentikan sementara selama masa libur sekolah.

Mereka menginginkan pemerintah memastikan Program MBG terus berjalan karena dianggap telah menjadi penggerak perekonomian masyarakat dari hulu hingga hilir.

Koordinator lapangan dan bertanggung jawab atas aksi, Imam Muntofik, menyatakan kegiatan ini diadakan sebagai wujud dukungan terhadap berbagai program Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dianggap pro rakyat.

Kami merupakan bagian dari Aliansi Masyarakat Banyumas Bersatu.

Hari ini kami melakukan aksi damai sebagai bentuk dukungan terhadap berbagai program pemerintahan Prabowo-Gibran yang berpihak kepada rakyat.

Beberapa program tentu kami dukung jika memang bermanfaat.

Namun jika ada hal yang tidak baik, tentu kami akan mengkritiknya,” katanya kepadaTribunbanyumas.com.

Menurut Imam, peserta demonstrasi terdiri dari berbagai komponen, mulai dari relawan SPPG, perwakilan Tani Merdeka Indonesia, pemasok UMKM hingga orang tua yang menerima manfaat Program MBG.

Ia menyebutkan jumlah peserta mencapai sekitar 3.000 hingga 3.500 orang, yang terdiri dari sekitar 3.000 relawan SPPG, 200 anggota Tani Merdeka Indonesia, serta sekitar 400 orang tua murid penerima manfaat MBG.

Pada aksi tersebut, para peserta juga menyampaikan beberapa tuntutan, salah satunya adalah meminta pemerintah untuk menghapus korupsi secara menyeluruh.

“Tidak boleh ada pelaku korupsi yang dibiarkan berjalan dengan seenaknya. Salah satu contohnya adalah dugaan tindakan korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN).

Kami merasa menjadi pihak yang tertipu terkait dugaan tindak pidana tersebut karena dampak dari korupsi itulah Program MBG mulai menghadapi hambatan,” katanya.

Imam menyampaikan bahwa hingga saat ini Program MBG masih dalam status dihentikan sementara.

Ia menyebutkan bahwa penghentian tersebut merujuk pada Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 yang dikeluarkan oleh pimpinan BGN terbaru mengenai penghentian sementara kegiatan selama masa libur sekolah.

Ya, hingga saat ini masih terhenti.

Hal tersebut merujuk pada Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 yang dikeluarkan oleh pimpinan BGN terbaru, yang menyatakan penangguhan sementara program hingga masa libur sekolah,” katanya.

Menurutnya, dampak penghentian program paling terasa oleh petani, pelaku UMKM, serta relawan yang selama ini mengandalkan pendapatan dari Program MBG.

Petani sebelumnya telah menyiapkan hasil panen untuk didistribusikan ke dapur-dapur SPPG.

Saat program berhenti, mereka kehilangan pasar. Hasil panen yang sebelumnya diambil oleh program kini tidak memiliki tujuan penjualan yang jelas,” katanya.

Ia mengakui bahwa keadaan ini mulai terlihat di pasar tradisional.

Silakan cek di Pasar Wage maupun pasar lainnya. Harga mentimun saat ini sudah sangat turun akibat penghentian Program MBG. Harga telur juga mengalami penurunan,” katanya.

Selain petani, para sukarelawan juga kehilangan pekerjaan sementara.

Banyak relawan sebelumnya mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan.

Setelah memperoleh pekerjaan melalui program ini, kini justru harus menghadapi penghentian aktivitas selama tiga minggu,” katanya.

Menurut Imam, di Kabupaten Banyumas kini terdapat lebih dari 200 tempat penyedia makanan MBG.

Jika setiap dapur diisi sekitar 50 relawan, maka terdapat sekitar 10.000 hingga 11.000 relawan yang terlibat dalam program tersebut.

Namun dalam aksi kali ini hanya sebagian kecil yang bisa hadir karena sebagian lainnya harus tetap mencari penghidupan atau memiliki urusan lain.

Gunungan hasil panen yang dipertunjukkan dalam kegiatan tersebut berasal dari para petani yang tergabung dalam Tani Merdeka Indonesia.

Menurut Imam, gunungan tersebut melambangkan keberhasilan para petani selama Program MBG berlangsung karena hasil panen mereka dapat terserap dengan baik.

Gunungan ini adalah karya dari para petani yang tergabung dalam Tani Merdeka.

Melalui gunungan ini, mereka berharap menunjukkan hasil pertanian yang berhasil mereka peroleh selama Program MBG berlangsung,” katanya.

Ia menyebutkan sekitar 200 petani Tani Merdeka terlibat dalam kegiatan tersebut.

Mereka datang untuk menyampaikan bahwa Program MBG telah berkontribusi dalam meningkatkan penjualan hasil panen.

“Mereka sangat mendapat manfaat dari program-program yang dikeluarkan Pemerintah Prabowo-Gibran, khususnya Program MBG. Oleh karena itu, mereka berharap program tersebut dapat terus berjalan,” katanya.

Menurut Imam, penghentian kegiatan selama tiga minggu saja telah berdampak signifikan terhadap perekonomian.

Saat program berhenti, mereka tidak tahu ke mana harus menjual hasil panen mereka.

Harga mentimun mengalami penurunan yang signifikan, demikian pula dengan harga telur. Para pekerja yang sebelumnya mendapatkan penghasilan dari Program MBG juga kehilangan sumber penghidupan mereka,” katanya.

Sementara menunggu kejelasan mengenai kelanjutan program, sebagian relawan kini harus mencari pekerjaan sambilan.

Mereka tetap memerlukan kebutuhan pokok, termasuk biaya pendidikan anak-anak.

Saat ini banyak orang bekerja sebagai tukang bangunan,” katanya. (jti)

Artikel Pilar Terkait