Estimasi waktu baca: 3 menit
Kepri KPA NEWS – CO.ID, JAKARTA — Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn.) TB Hasanuddin mengungkap dana yang dialokasikan untuk pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Hasanuddin mengkritik kegiatan tersebut karena lebih efisien jika komponen Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dihapus dan fokus sepenuhnya pada pengembangan kemampuan manajerial.
Hasanuddin menyebutkan bahwa total anggaran yang dibutuhkan selama 45 hari pelatihan Latsarmil sekitar Rp45 juta per peserta. Dari angka tersebut, sekitar Rp30 juta dialokasikan untuk pelaksanaan latihan militer. Sementara itu, hanya Rp15 juta yang digunakan untuk pembelajaran materi koperasi.
Dari program pelatihan selama 45 hari yang terdiri dari 30 hari latihan militer dan 15 hari pembelajaran materi koperasi, mayoritas anggaran justru dialokasikan untuk kegiatan militer. Padahal, aktivitas tersebut tidak berkaitan langsung dengan tugas pengelolaan koperasi,” ujar TB Hasanuddin dalam pernyataannya pada Selasa (30/6/2026).
Hasanuddin melihat Latsarmil sebaiknya dihapus agar program pelatihan sepenuhnya berkaitan dengan manajerial.
“Artinya, jika latihan militer dihentikan, negara bisa menghemat sekitar Rp30 juta atau sekitar dua pertiga dari biaya pelatihan total per peserta,” ujar TB Hasanuddin.
Hasanuddin mengatakan bahwa jika skema tersebut diterapkan secara nasional kepada seluruh peserta yang berjumlah 35.476 orang, maka potensi penghematan anggaran bisa mencapai triliunan rupiah. Dari jumlah 35.476 peserta dikalikan dengan Rp 45 juta per peserta, maka kegiatan tersebut menghabiskan uang rakyat sebesar minimal 1.596.420.000.000.
Meskipun demikian, TB Hasanuddin menekankan bahwa tugas utama manajer koperasi adalah mengelola organisasi serta memperluas usaha.
“Isi pelatihan seharusnya berfokus pada kompetensi profesional, bukan pada latihan fisik atau militer,” kata Hasanuddin.
Hasanuddin menemukan bahwa Kementerian Koperasi menyediakan dana untuk pelatihan manajerial bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih. Sementara itu, pelatihan manajerial bagi peserta Kampung Nelayan Merah Putih didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Hasanuddin menegaskan bahwa keterampilan yang dibutuhkan oleh manajer koperasi bukanlah pelatihan militer.
“Kami memerlukan manajer koperasi yang mampu mengelola bisnis, memahami tata kelola keuangan, pemasaran, serta pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan mereka,” kata politisi PDIP tersebut.
Oleh karena itu, Hasanuddin mengusulkan agar Latsarmil dievaluasi agar mampu menghasilkan manajer KDMP yang memiliki kompetensi sesuai dengan tugasnya.
“Pemerintah melakukan penilaian menyeluruh terhadap konsep pelatihan agar lebih efektif, efisien, tepat arah, dan mampu menciptakan pengelola koperasi yang kompeten tanpa memberatkan anggaran negara,” kata Hasanuddin.
Sebelumnya, pemerintah memakwajibkan seluruh calon manajer di Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk mengikuti pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Dalam gelombang pertama yang berlangsung pada 17 Juni hingga 31 Juli 2026, kegiatan ini diikuti oleh 35.476 peserta, yang terdiri dari 30 ribu calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.
Kementerian Pertahanan (Kemhan)
menyatakan bahwa program ini dibuat untuk membentuk ‘disiplin, integritas, dan semangat korsa’. Kegiatan pelatihan meliputi bangun pukul 03.30 WIB, latihan fisik, PBB (Peraturan Baris Berbaris), hingga rencana berlatih menembak pada minggu ketiga yang jauh dari tugas manajer koperasi.
Namun kegiatan ini akhirnya menyebabkan sebagian peserta meninggal dunia. Berdasarkan informasi resmi Kementerian Pertahanan per 27 Juni 2026, lima korban yang meninggal adalah
Yonanda Mohamad Taufiq, selama mengikuti pelatihan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja; Annisa
Muyassaroh, saat pelatihan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan; Novia
Rahmadhani Sihotang, saat mengikuti pelatihan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau; Muhammad Rifqi Renaldi
pelatihan yang diadakan di Satdik Yon PARAKO 465 dan Nola Diasari, saat pelatihan berlangsung di Satdik C Kalimantan. Kelimanya dinyatakan meninggal dunia karena kondisi kesehatan tertentu; yakni heat stroke,
henti jantung (arrest jantung), serta tuberkulosis.
Artikel Pilar Terkait
viral
Parodi Kopdes Viral di Media Sosial, Menkop: Ini Masukan BerhargaJakarta, IDN Times - Menteri Koperasi Ferry Juliantono menanggapi maraknya konten parodi terkait Koperasi Desa Merah Putih/Kampung Nelayan…
hukum
UU Polri: Normalisasi Pelanggaran Konstitusi BELUMhilangnya ingatan kita terhadap tindakan konstitusional yang dilakukan oleh Peraturan Polri Nomor 10 Tahun 2025 (Perpolri Jabatan…
hukum
Tugas Baru TNI di Bawah Pemimpinan Prabowo, Apa Saja?Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto menyatakan, hanya di Indonesia aparat militer terlibat dalam pengelolaan lahan pertanian…
hukum
Pengadaan Motor Listrik MBG Diduga Atur Harga, TNI Selidiki SupplierRingkasan Berita: Seorang perwira TNI aktif dengan pangkat Kolonel dari Korps Peralatan (CPL) bernama BU diduga terlibat dalam…
Nasional
Nadiem Makarim Hadapi Vonis Kasus Korupsi Chromebook Hari Ini, Sidang Disiarkan Langsung Kepri KPA NEWS -– Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, akan menghadapi sidang…
Nasional
5 Forum PPPK dan PPPK Paruh Waktu Bertemu Mensesneg dan Sufmi Dasco, Hasil PositifKepri KPA NEWS -, JAKARTA - Lima forum PNS Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja danPPPK paruh waktubertemu Menteri…
Nasional
Gubernur YSK Ajak Daerah Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Kunci Pembangunan SulutKepri KPA NEWS -Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK), menekankan bahwa data yang tepat menjadi dasar pokok…
Nasional
Nadiem Makarim Hadapi Vonis Kasus Korupsi Chromebook Hari IniMantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim menantikan keputusan pengadilan mengenai dugaan tindak pidana korupsi…