Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
Nasional

Biaya Latsarmil Calon Manajer Kopdes Rp45 Juta, Anggaran Total Capai Rp1,5 T

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 30, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

Kepri KPA NEWS – CO.ID, JAKARTA — Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn.) TB Hasanuddin mengungkap dana yang dialokasikan untuk pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Hasanuddin mengkritik kegiatan tersebut karena lebih efisien jika komponen Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) dihapus dan fokus sepenuhnya pada pengembangan kemampuan manajerial.

Hasanuddin menyebutkan bahwa total anggaran yang dibutuhkan selama 45 hari pelatihan Latsarmil sekitar Rp45 juta per peserta. Dari angka tersebut, sekitar Rp30 juta dialokasikan untuk pelaksanaan latihan militer. Sementara itu, hanya Rp15 juta yang digunakan untuk pembelajaran materi koperasi.

Dari program pelatihan selama 45 hari yang terdiri dari 30 hari latihan militer dan 15 hari pembelajaran materi koperasi, mayoritas anggaran justru dialokasikan untuk kegiatan militer. Padahal, aktivitas tersebut tidak berkaitan langsung dengan tugas pengelolaan koperasi,” ujar TB Hasanuddin dalam pernyataannya pada Selasa (30/6/2026).
Hasanuddin melihat Latsarmil sebaiknya dihapus agar program pelatihan sepenuhnya berkaitan dengan manajerial.
“Artinya, jika latihan militer dihentikan, negara bisa menghemat sekitar Rp30 juta atau sekitar dua pertiga dari biaya pelatihan total per peserta,” ujar TB Hasanuddin.
Hasanuddin mengatakan bahwa jika skema tersebut diterapkan secara nasional kepada seluruh peserta yang berjumlah 35.476 orang, maka potensi penghematan anggaran bisa mencapai triliunan rupiah. Dari jumlah 35.476 peserta dikalikan dengan Rp 45 juta per peserta, maka kegiatan tersebut menghabiskan uang rakyat sebesar minimal 1.596.420.000.000.
Meskipun demikian, TB Hasanuddin menekankan bahwa tugas utama manajer koperasi adalah mengelola organisasi serta memperluas usaha.
“Isi pelatihan seharusnya berfokus pada kompetensi profesional, bukan pada latihan fisik atau militer,” kata Hasanuddin.
Hasanuddin menemukan bahwa Kementerian Koperasi menyediakan dana untuk pelatihan manajerial bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih. Sementara itu, pelatihan manajerial bagi peserta Kampung Nelayan Merah Putih didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Hasanuddin menegaskan bahwa keterampilan yang dibutuhkan oleh manajer koperasi bukanlah pelatihan militer.
“Kami memerlukan manajer koperasi yang mampu mengelola bisnis, memahami tata kelola keuangan, pemasaran, serta pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, pelatihan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan mereka,” kata politisi PDIP tersebut.
Oleh karena itu, Hasanuddin mengusulkan agar Latsarmil dievaluasi agar mampu menghasilkan manajer KDMP yang memiliki kompetensi sesuai dengan tugasnya.
“Pemerintah melakukan penilaian menyeluruh terhadap konsep pelatihan agar lebih efektif, efisien, tepat arah, dan mampu menciptakan pengelola koperasi yang kompeten tanpa memberatkan anggaran negara,” kata Hasanuddin.
Sebelumnya, pemerintah memakwajibkan seluruh calon manajer di Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk mengikuti pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Dalam gelombang pertama yang berlangsung pada 17 Juni hingga 31 Juli 2026, kegiatan ini diikuti oleh 35.476 peserta, yang terdiri dari 30 ribu calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan 5.476 calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.
Kementerian Pertahanan (Kemhan)
menyatakan bahwa program ini dibuat untuk membentuk ‘disiplin, integritas, dan semangat korsa’. Kegiatan pelatihan meliputi bangun pukul 03.30 WIB, latihan fisik, PBB (Peraturan Baris Berbaris), hingga rencana berlatih menembak pada minggu ketiga yang jauh dari tugas manajer koperasi.
Namun kegiatan ini akhirnya menyebabkan sebagian peserta meninggal dunia. Berdasarkan informasi resmi Kementerian Pertahanan per 27 Juni 2026, lima korban yang meninggal adalah
Yonanda Mohamad Taufiq, selama mengikuti pelatihan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja; Annisa
Muyassaroh, saat pelatihan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan; Novia
Rahmadhani Sihotang, saat mengikuti pelatihan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau; Muhammad Rifqi Renaldi
pelatihan yang diadakan di Satdik Yon PARAKO 465 dan Nola Diasari, saat pelatihan berlangsung di Satdik C Kalimantan. Kelimanya dinyatakan meninggal dunia karena kondisi kesehatan tertentu; yakni heat stroke,
henti jantung (arrest jantung), serta tuberkulosis.

Artikel Pilar Terkait