Kepri KPA NEWS -–penurunan harga ayam dan telur kembali menghancurkan para peternak unggas di kawasan Soloraya. Sebagai wujud protes terhadap situasi ini, puluhan peternak melakukan aksi demonstrasi yang menarik perhatian dengan cara mandi telur secara teatris di wilayah Gladag, Jalan Slamet Riyadi, Solo, pada Selasa 07 Juli 2026.
Aksi yang dilakukan oleh para peternak tidak hanya menyampaikan tuntutan kepada pemerintah, tetapi juga mendapat perhatian masyarakat karena diiringi pembagian ayam dan telur secara gratis.
Dengan tindakan tersebut, para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menangani penurunan harga ayam dan telur di Soloraya yang dianggap telah menyebabkan kerugian besar.
5 Fakta Mengenai Aksi Mandi Telur Peternak Soloraya
-
Pembukaan Pertunjukan Seni dan Orasi Petani
Aksi berlangsung dengan cara yang berbeda dibandingkan kegiatan biasanya. Kegiatan dimulai dengan tampilan tari dan musik tradisional di sekitar Monumen Slamet Riyadi, kemudian dilanjutkan dengan pidato dari perwakilan peternak.
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Rakyat Indonesia (Pinsar) Boyolali, Krishandrika Immanuel Raharjo, menyampaikan keluhan para peternak yang berharap pemerintah segera mengatur harga ayam, telur, dan makanan ternak.
-
Pementasan Teatrikal Mandi Telur sebagai Simbol Kekesalan Pertunjukan Teatrikal Mandi Telur sebagai Lambang Kekecewaan Mandi Telur dalam Pementasan Teatrikal Menggambarkan Rasa Kekesalan Simbol Kekecewaan dalam Pertunjukan Teatrikal Mandi Telur Pementasan Teatrikal yang Menggunakan Mandi Telur sebagai Tanda Kekesalan Mandi Telur sebagai Aksi Teatrikal yang Menyimbolkan Kekecewaan Adegan Teatrikal Mandi Telur yang Mewakili Rasa Kekesalan Pertunjukan Teatrikal dengan Mandi Telur sebagai Simbol Perasaan Kekesalan Simbol Kekesalan dalam Pementasan Teatrikal Mandi Telur Mandi Telur dalam Teatrikal sebagai Representasi Kekecewaan
Salah satu momen yang paling menarik perhatian adalah tindakan mandi telur. Dalam pertunjukan teatrikal tersebut, seorang peserta memecahkan telur di atas kepalanya sebagai lambang kekecewaan terhadap harga telur yang terus menurun.
Berdasarkan pernyataan Ketua Pinsar Jawa Tengah, Parjuni, telur yang digunakan dalam aksi sekitar lima kilogram. Sementara telur yang diserahkan kepada masyarakat adalah telur segar yang masih layak untuk dikonsumsi.
-
Harga Jual Jauh Lebih Rendah Dibanding Biaya Produksi
Peternak menyampaikan bahwa harga jual yang ada saat ini tidak cukup untuk menutupi pengeluaran harian.
Beberapa kondisi yang mereka sampaikan di antaranya:
- Harga ayam segar sekitar Rp13.000 per kilogram.
- Harga telur berada di kisaran Rp17.000 sampai Rp18.000 per kilogram.
- Kenaikan biaya pakan mencapai sekitar 5 hingga 7 persen.
- Kerugian yang dialami peternak semakin bertambah karena naiknya biaya produksi.
Keadaan ini dianggap membahayakan kelangsungan usaha peternakan masyarakat, terutama yang berukuran kecil dan menengah.
-
Kerugian Mencapai Ratusan Juta Rupiah
Berdasarkan pendapat peternak, penurunan harga telah terjadi sekitar dua bulan terakhir.
Akibatnya:
- Peternak berukuran menengah mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
- Peternakan skala besar bahkan mengalami kerugian yang bisa mencapai miliaran rupiah.
- Persediaan ayam dan telur meningkat akibat penjualan yang menurun.
Peternak menganggap situasi ini disebabkan oleh kelebihan pasokan di pasar yang tidak sejalan dengan kemampuan beli masyarakat.
-
Desak Pemerintah Meninjau Kembali Kebijakan Perunggasan
Selain meminta penstabilan harga, peternak juga mengharapkan pemerintah melakukan peninjauan terhadap kebijakan di bidang perunggasan.
Beberapa permintaan yang diajukan mencakup:
- Mengatur impor ayam ras dari sumber induk (GPS).
- Menyesuaikan produksi dalam negeri sesuai dengan kebutuhan konsumen.
- Mengevaluasi investasi dalam sektor peternakan agar tidak menyebabkan kelebihan pasokan.
- Mempertahankan keseimbangan antara pengadaan dan kebutuhan.
Peternak berharap kebijakan tersebut mampu menghasilkan harga yang lebih stabil agar usaha peternakan rakyat tetap bisa bertahan.
Melalui demonstrasi damai ini, para peternak berharap pemerintah segera memberikan penyelesaian nyata terkait harga ayam dan telur yang menurun di Soloraya.
Tanpa kebijakan yang mampu menyeimbangkan produksi, harga, dan biaya pakan, mereka khawatir semakin banyak peternak kecil yang kesulitan menjaga usahanya karena harga ayam dan telur terus turun.***
Artikel Pilar Terkait
Ringkasan Berita: LDA mengatakan Gusti Moeng datang mengunjungi Ana Muji untuk membicarakan akses Keputren dan Ndalem Ageng terkait…
Jakarta, IDN Times - Menteri Koperasi Ferry Juliantono menanggapi maraknya konten parodi terkait Koperasi Desa Merah Putih/Kampung Nelayan…
Kepri KPA NEWS -Berita paling viral di Kepri KPA NEWS - yang terdiri dari berita terpopuler, Rabu (8/7/2026).…
Kepri KPA NEWS -- Perselisihan mengenai rumah kontrakan di Jalan Kalisari Sayangan 1, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya,…
Ringkasan Berita: Nyimas Laula mendapat perhatian publik setelah video di mana dia menegur seorang pria di gym Bali…
Ringkasan Berita:Perdebatan tentang Upacara Adat Menindih Kepala Kerbau Jokowi menyangkal bahwa ritual injak kepala kerbau di Lampung memiliki…
Kepri KPA NEWS -- Dua keluarga yang menolak pindah dari rumah sewa di wilayah Genteng, Surabaya,…
Ringkasan Berita: Sopir bus pariwisata dari PO EP sempat menjadi target pencarian pihak Polda Lampung setelah video mengemudi…