Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
viral

Dokter Icha Ditemukan Tewas Gantung Diri Usai Alami Tekanan DPRD

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 27, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

Kepri KPA NEWS –– Dokter Icha sempat mengalami depresi setelah mengakui diancam oleh anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), dan akhirnya ditemukan tewas gantung diri di rumahnya.

Selanjutnya, Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di rumahnya.

Dokter Icha sebelumnya mengakui bahwa dirinya pernah diintimidasi oleh dua anggota DPRD TUU hingga mengalami depresi dan lemas hingga harus dirawat di rumah sakit.

Berdasarkan data yang diperoleh keluarga, dr. Icha ditemukan meninggal di dalam kamar rumahnya dengan posisi tergantung dan tali yang terikat pada kerangka pintu.

Paman dokter Icha, Victor mengatakan, hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh petugas tidak menemukan tanda-tanda kekerasan yang mencurigakan pada tubuh almarhumah.

“Berdasarkan kesepakatan keluarga, kami memutuskan tidak melakukan autopsi. Jenazah selanjutnya dibawa ke Rumah Duka Baumata untuk disemayamkan dan diiringi doa oleh keluarga, teman dekat, serta para tamu yang hadir,” katanya.

Menurut Victor, sebelum meninggal, dr. Icha telah menjalani perawatan medis selama sekitar enam hari sejak 15 Juni 2026.

Setelah keadaannya membaik, dia diperbolehkan pulang dan menjalani pengobatan di rumah pada 21 Juni 2026.

Pergi dr. Icha menyebabkan duka yang dalam bagi keluarga.

Victor berharap masyarakat menghargai privasi keluarga dalam situasi berkabung dan tidak berspekulasi tentang penyebab kematian almarhumah.

Dua Anggota DPRD Diduga Menakuti Dokter di NTT Hingga Mengalami Depresi

Sebelumnya dilaporkan, dua anggota DPRD bernama Trens Lasakar dan Robertus Tubani diduga melakukan pemaksaan terhadap seorang dokter di NTT hingga menyebabkan kondisi depresi.

Anggota DPRD yang aktif di Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, yaitu Lasakar dan Robertus Tubani.

Kejadian itu terjadi saat dokter bernama Icha sedang memberikan perawatan medis kepada seorang anak yang menjadi korban gigitan ular pada hari Sabtu (13/6/2026).

Berdasarkan keterangan keluarga, dokter tersebut telah melakukan prosedur penanganan sesuai dengan standar operasional rumah sakit dan secara rutin berkoordinasi dengan dokter spesialis anak.

Namun, kondisi mulai memburuk ketika keluarga pasien tidak menerima penjelasan medis mengenai vaksin yang mereka minta.

Selain belum dianggap layak digunakan secara medis untuk kondisi tersebut, stok vaksin yang dimaksud juga dilaporkan tidak tersedia di rumah sakit.

Tegangan semakin memuncak ketika dua pria yang mengklaim sebagai anggota dewan datang ke area IGD dan menyampaikan protes dengan nada keras.

Mereka meminta penjelasan langsung dari dr Icha terkait pengelolaan pasien yang sedang berlangsung.

Tunjuk-tunjuk Wajah Sang Dokter

Seorang individu diduga bertindak kasar dengan menunjuk wajah dokter saat berbicara.

Peristiwa ini juga menarik perhatian masyarakat dan mengundang kritik terhadap perlindungan para tenaga kesehatan saat menjalankan tugas pelayanan medis.

Kondisi di dalam ruang IGD tiba-tiba memanas ketika dua orang pria datang dan menyatakan diri sebagai anggota dewan yang terhormat dari DPRD TTU.

Mereka segera menyampaikan protes yang tajam dengan suara keras di ruang perawatan.

Seorang anggota legislatif tertentu bahkan disebut mengarahkan wajahnya secara agresif kepada Icha saat meminta penjelasan.

Icha Mengalami Kekacauan Saat Diperlakukan Kasar

Akibat teriakan dan perlakuan kasar yang diberikan, dr Icha segera mengalami tekanan emosional yang berat hingga menangis histeris saat sedang menjalankan tugasnya.

Keesokan harinya, luka batin masih menghantui dokter tersebut yang terus merasakan rasa takut dan tekanan.

Pada malam hari berikutnya, rekan sejawat sesama tenaga kesehatan menemukan dr Icha dalam keadaan tubuh yang sangat lemah dan terbaring di dalam kamar tempat tinggalnya.

Ia harus segera dibawa kembali ke RS Leona untuk mendapatkan infus dan menjalani perawatan medis yang intensif.

“Dokter Icha mengakui masih merasakan rasa takut dan tekanan psikologis akibat omelan yang ia terima saat bekerja,” ujar Victor saat memberikan keterangan kepada Kompas.com, Sabtu (20/6/2026).

*/Kepri KPA NEWS –

sebagian tulisan ini telah tayang di Kompas.com

Baca berita lain dari TRIBUN MEDAN di Google News

Ikuti pula informasi lainnya melalui Facebook, Instagram, Twitter, dan Channel WA

Berita populer lainnya di Tribun Medan

Artikel Pilar Terkait