Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
hukum

Kronologi Pasien Kritis di Karanganyar Meninggal Akibat Ambulans Terhambat Konvoi Silat, Keluarga Kritik Polisi

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 22, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

KEPRI NEWSPasien kritis di Karanganyar meninggal karena ambulans terhambat oleh konvoi perguruan silat. Keluarga segera mengkritik kinerja polisi.

Seorang pasien kritis di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, meninggal setelah mobil ambulans yang mengambil dan membawanya ke puskesmas terganggu oleh rombongan penerimaan anggota baru dari sebuah perguruan silat di jalan utama Solo–Tawangmangu, pada malam Sabtu (20/6/2026).

Berikut rangkaian kejadian pasien kritis di Karanganyar yang meninggal dunia karena ambulans terhalang oleh konvoi perguruan silat. Keluarga mengkritik kinerja polisi.

Di dalam iring-iringan tersebut, tampak ratusan orang yang berpakaian seluruhnya hitam sambil menyalakan kembang api serta diiringi suara knalpot yang sangat bising.

Pasien yang dimaksud diketahui bernama Hadi Sukat (60), penduduk Kecamatan Karangpandan, Karanganyar. Ia meninggal sebelum sempat mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Karangpandan.

Agung, anggota Relawan Karangpandan (Rendan), menceritakan proses terhambatnya ambulans yang akan mengambil Hadi Sukat. Pada saat kejadian, beberapa ambulans sedang beraktivitas di berbagai tempat.

“Pada saat itu, banyak mobil ambulans fokus ke Bangsri (kebakaran pabrik briket) dan yang siap beroperasi berada di RSDM Dr. Moewardi Solo telah selesai mengantar korban luka (3 orang yang terkena bacok di Desa Ngemplak, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar),” ujar Agung, Minggu (21/6/2026), dikutip dari Tribun Solo.

Ia menambahkan, salah satu ambulans selanjutnya dialihkan ke rumah Hadi Sukat di Desa Karangpandan. Namun perjalanan tersebut mengalami hambatan karena jalan yang dipenuhi oleh massa konvoi sehingga kendaraan tidak bisa berjalan dengan lancar.

“Saat menuju ke rumah pasien, perjalanan mobil ambulans terhambat oleh mereka, jalan Solo-Tawangmangu pada saat itu tidak bisa dilalui,” katanya.

Agung menyebutkan bahwa kendaraan tersebut sempat terhambat berjalan karena jalan yang penuh dengan peserta konvoi, sehingga harus melewati kerumunan orang. Namun, pada akhirnya ambulans berhasil sampai ke rumah pasien.

Saat proses evakuasi menuju Puskesmas Karangpandan, kendaraan ambulans kembali mengalami hambatan karena kerumunan warga di jalan. Sayangnya, setelah tiba di puskesmas, pasien sudah dinyatakan meninggal dunia.

 

“Saat tiba di puskesmas, kondisinya diperiksa dan tidak ditemukan lagi detak jantung serta dinyatakan meninggal,” kata Agung.

Keluarga pasien merasa kecewa akibat ketidakcukupan pengaturan lalu lintas saat ambulans melintas.

“Seharusnya polisi lalu lintas mengatur jalan, memberi ruang, seharusnya jika ingin diberikan ruang itu dilakukan di tempat yang tidak mengganggu jalan,” ujar Dwi Purnamasari (36), putri pasien, Minggu.

Menurut saya, sebenarnya jangan sampai mengganggu pengguna jalan, sangat disayangkan, karena kejadian ini terjadi setahun sekali, seharusnya bisa diatur dengan baik.

Dwi menyampaikan bahwa keadaan ayahnya mulai memburuk sejak pagi hari. Selain itu, perjalanan menuju lokasi sempat tertunda karena iring-iringan konvoi perguruan silat.

Sementara itu, Hadi Sukat telah dikebumikan di Makam Nongko 2, Dusun Gedangan, Desa/Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Ia diingat oleh keluarga sebagai sosok yang sangat dekat dengan anggota keluarganya serta masyarakat sekitar.

Keluarga Soroti Kinerja Polisi

Dwi Purnamasari, putri dari almarhum yang berusia 36 tahun, menyampaikan rasa kekecewaannya karena adanya hambatan akses kendaraan darurat akibat kegiatan konvoi. Ia menganggap bahwa pihak kepolisian seharusnya mampu menjaga jalur tetap terbuka, khususnya untuk kebutuhan mendesak seperti ambulans.

“Seharusnya polisi lalu lintas mengatur jalan, memberi ruang, seharusnya jika ingin diberikan ruang dilakukan di tempat yang tidak mengganggu lalu lintas,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Dwi Purnamasari berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi karena bisa membahayakan pengendara lain yang membutuhkan akses yang cepat.

“Menurut saya, jangan sampai mengganggu pengguna jalan, sangat disayangkan, karena itu hanya terjadi sekali dalam setahun, seharusnya bisa diatur dengan baik,” kata Dwi.

 

Ia mengatakan bahwa kondisi kesehatan ayahnya mulai memburuk sejak pagi hari. Namun, perjalanan menuju tempat pelayanan kesehatan terganggu karena kemacetan yang disebabkan oleh kerumunan kendaraan di jalan.

Jenazah Hadi Sukat kemudian dikebumikan pada siang hari Minggu sekitar pukul 12.00 WIB di TPU Nongko 2, Dusun Gedangan, Desa/Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. (*)

Artikel Pilar Terkait