Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
viral

Trump Marah Besar Setelah Kapal Kargo Diserang di Selat Hormuz, AS Langsung Serang Iran

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 27, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

Kepri KPA NEWS –– Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengkritik tajam dugaan serangan drone terhadap kapal kargo Ever Lovely di Selat Hormuz, yang menurutnya melanggar “tindakan bodoh” kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.

Serangan terbaru ini menjadi tantangan bagi perjanjian kerja sama (Memorandum of Understanding/MoU) berdurasi 60 hari yang baru ditandatangani oleh kedua negara. Perjanjian tersebut bertujuan menurunkan ketegangan, mencabut blokade laut, membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional, serta memberikan ruang bagi pembicaraan lebih lanjut mengenai program nuklir Iran dan penghapusan sanksi.

Dilaporkan oleh Al Jazeera, Jumat (27/6), Trump menyatakan bahwa sebuah pesawat tanpa awak menabrak dek bagian atas kapal kargo berbendera Singapura Ever Lovely, yang dimiliki perusahaan pelayaran Taiwan, Evergreen Marine.

Menurut militer Inggris, kapal tersebut diserang di dekat pantai Oman pada Kamis (26/6), setelah sebelumnya terjebak di wilayah Teluk selama lebih dari 100 hari setelah mengangkut barang dari Irak. Meskipun mengalami kerusakan akibat serangan tersebut, tidak ada awak kapal yang cedera dan kapal masih mampu melanjutkan perjalanannya.

Pada unggahannya di Truth Social, Trump menyampaikan, “Salah satu drone tepat mengenai bagian atas sebuah kapal kargo yang besar dan sangat mahal. Meskipun terjadi kerusakan, kapal tersebut masih mampu melanjutkan perjalanannya.”

Ia juga menyebut pasukan Amerika Serikat berhasil mencegat tiga pesawat tak berawak lainnya yang ditembakkan dalam serangan yang terkoordinasi. Menurut Trump, “Ini jelas merupakan pelanggaran yang tidak bijaksana terhadap perjanjian gencatan senjata kita.”

Beberapa jam setelah pernyataan tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) mengumumkan bahwa mereka telah melakukan serangan terhadap tempat penyimpanan rudal, gudang drone, serta lokasi radar pantai milik Iran. Angkatan bersenjata AS menyebut operasi ini sebagai tindakan balasan langsung terhadap serangan terhadap kapal Ever Lovely, yang dianggap sebagai tindakan agresif tanpa alasan terhadap pelayaran komersial.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menyatakan, “Serangan yang tidak dapat dibenarkan terhadap kapal-kapal niaga oleh pasukan Iran jelas melanggar kesepakatan damai. Perilaku berbahaya Iran juga telah merusak kebebasan berlayar di jalur perdagangan internasional yang sangat penting.”

Sampai berita ini dirilis, Iran belum mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, dua pejabat Amerika Serikat yang berbicara kepada Reuters dengan nama samaran menyatakan bahwa drone yang menyerang kapal berasal dari Iran.

Di sisi lain, kapal Ever Lovely dilaporkan memilih rute selatan sepanjang pantai Oman, bukan melalui jalur yang sebelumnya ditentukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Beberapa jam sebelum kejadian, IRGC mengeluarkan perintah agar semua kapal niaga berkoordinasi langsung dengan Angkatan Laut Iran saat melewati wilayah tersebut.

Kejadian tersebut segera menghentikan upaya Organisasi Maritim Internasional (IMO) dalam memantau ratusan kapal yang masih terjebak di wilayah Teluk. Sebelumnya, organisasi ini sedang berupaya untuk mengevakuasi kapal-kapal yang terdampak selama beberapa bulan akibat ketegangan keamanan di Selat Hormuz. Menurut laporan, lebih dari 11.000 awak kapal masih terkena dampak situasi ini.

Di sisi lain, Iran juga memperkuat kritik terhadap Washington serta enam negara Teluk yang menolak pernyataan Teheran mengenai haknya untuk memberlakukan tarif terhadap kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui akun X menyampaikan bahwa “Jalur yang aman di Selat Hormuz tidak bisa dipastikan dengan sistem yang tidak jelas, jalur tambahan, atau proses pengambilan keputusan yang mengabaikan peran Iran sebagai negara pesisir.”

Pada saat yang bersamaan, IRGC menyangkal pernyataan Amerika Serikat mengenai adanya saluran komunikasi langsung antara Washington dan Teheran terkait pengelolaan Selat Hormuz.

Kepala media IRGC, Letnan Jenderal Hossein Mohebbi, menyatakan, “Ini sepenuhnya palsu dan kami menolaknya secara tegas.”

Ia menyampaikan, “Selat Hormuz adalah wilayah Iran dan tidak terkait dengan Amerika Serikat.” Pernyataan yang saling bertolak belakang ini menunjukkan bahwa ketegangan diplomatik masih jauh dari mereda, meskipun kedua negara baru saja mengakhiri kesepakatan untuk menurunkan tingkat konflik.

Artikel Pilar Terkait