Ringkasan Berita:
- SJSF 2026, yang merupakan Jogja Sport & Fest, akan diadakan kembali pada tanggal 12–13 September tahun depan.
- Pada tahun keempat penyelenggaraannya, acara ini melangkah melebihi tradisi dengan menghadirkan kategori Half Marathon (21K) dan bekerja sama dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kota Yogyakarta untuk menemukan bakat atlet melalui kategori khusus Pelajar.
- SJSF 2026 dirancang sebagai wadah dan peningkat kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepri KPA BERITA, YOGYA– Acara olahraga tahunan yang menggabungkan semangat hidup sehat dan penguatan ekonomi rakyat, SiBakul Jogja Sport & Fest (SJSF) 2026, akan kembali diadakan pada 12–13 September 2026 mendatang.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, acara ini melangkah melebihi tradisi dengan menghadirkan kategori Half Marathon (21K) dan bekerja sama dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kota Yogyakarta untuk mencari bakat atlet melalui kategori khusus Pelajar.
Selain menjadi ajang lari, SJSF 2026 dirancang sebagai wadah dan pemicu kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Agus Mulyono, S.P., M.T., menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah perputaran ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Berdasarkan upaya pembinaan, diharapkan UMKM ini dapat meningkat kelasnya. Jadi, UMKM naik kelas dan koperasi menjadi lebih tangguh. Dalam penerapannya, tempat ini bagi kita merupakan lokasi yang saat ini kita tempati, yaitu Teras Malioboro, yang merupakan pusat belanja wisata di Yogyakarta, serta merupakan tempat relokasi dari para pedagang kaki lima yang berada di sepanjang selasar Jalan Malioboro. Tempat ini telah kita susun dengan baik dan sudah berjalan, serta bisa dimanfaatkan untuk bertransaksi, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kapasitas mereka agar bisa menjadi UMKM yang lebih berkualitas. Benar, UMKM SiBakul adalah etalase, jadi di sana akan dipajang produk-produk UMKM yang bisa diperjualbelikan,” ujar Agus di Teras Malioboro Beskalan, Sabtu (27/6) malam.
Kolaborasi lintas sektor menjadi dasar utama. Menurut Agus, ekosistem ini didukung penuh oleh berbagai pihak, termasuk Astra Financial dan Bank BPD DIY.
“Pastinya kami berharap terjadi peningkatan transaksi yang nantinya akan kembali meningkatkan pendapatan mereka. Hal ini secara nyata berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi mereka dan ekonomi wilayah, termasuk tempat kita saat ini, serta pada waktu pelaksanaan. Akhirnya, peningkatan transaksi bagi UMKM yang ikut serta,” tambahnya.
Dana Keistimewaan juga memberikan dukungan finansial dan strategis dari Pemerintah Daerah DIY. Paniradya Pati Kaistimewaan DIY, Kurniawan, S.Sos., S.E.Akt., M.Ec.Dev., menganggap SJSF sejalan dengan visi menjaga ciri khas Yogyakarta.
“Maka keistimewaan tersebut memang seharusnya muncul di ruang publik. Mengapa? Karena agar nantinya identitas karakter keistimewaan itu tetap menjadi bagian yang ada di tengah-tengah masyarakat kita,” kata Wawan.
Wawan menambahkan, “Jadi ada dua hal yang cukup kuat saat ini, yaitu yang mampu memperkuat karakter identitas keistimewaan kita. Pertama, melalui acara olahraga. Ini merupakan acara yang paling efektif saat ini untuk mempromosikan budaya maupun pariwisata. Kedua, festival. Saya rasa festival ini juga menjadi sesuatu yang mampu memperkuat ciri khas kita, Yogyakarta, dengan basis ekonomi yang mengandalkan UMKM. Jadi ada dua hal tersebut yang sebenarnya perlu kita dukung karena itu wujud kehadiran kami, keistimewaan di ruang-ruang publik.”
Dari segi teknis, panitia SJSF 2026 melakukan beberapa perubahan penting, khususnya dengan masuknya kategori 21K. Jumlah peserta dibatasi hingga 5.000 orang agar memastikan kenyamanan dalam berlari di tengah kota.
Rostian, perwakilan panitia SJSF, mengatakan, “Pada half marathon ini tentu target kami bukan hanya pelari lokal dan nasional, di mana nanti juga akan berdampak pada perekonomian. Rute memang mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan jalur yang lebih bernilai sejarah, masuk ke area-area yang memiliki nilai-nilai ikonik Yogyakarta, kita lewati semua, kita coba lewati. Di sini tetap utamanya kenyamanan para pelari dari segi teknis.”
Lomba ini menggunakan sistem tertutup (closed) hanya untuk warga negara Indonesia (WNI) dalam memperebutkan gelar juara. Warga asing diperkenankan mendaftar, tetapi tidak berhak mendapatkan posisi di podium. Harga tiket Early Bird yang ditentukan adalah Rp185.000 untuk lari 5K, Rp225.000 untuk 10K, dan Rp400.000 untuk 21K (dari harga biasa Rp475.000).
Mengenai pengelolaan risiko, panitia menggeser waktu keberangkatan (flag-off) agar mengurangi paparan cuaca panas dan kemacetan lalu lintas, serta menyiapkan pos kesehatan bersama hingga rumah sakit rujukan.
“Yang jelas sedikit berbeda, kami mengubah jam mulai menjadi lebih awal, di mana half marathon nanti akan dimulai pada pukul 04.45. Meski masih agak gelap, namun itu menurut kami cukup aman untuk melewati jalur-jalur tersebut. Selanjutnya untuk lari 10K pada pukul 05.15, dan terakhir untuk 5K pada pukul 05.30,” jelas Rostian.
Satu inovasi penting pada tahun ini adalah kehadiran kategori Pelajar yang pendaftarannya akan dimulai pada Senin, 29 Juni 2026, pukul 20.00 WIB. Ketua PASI Kota Yogyakarta, Fajar Kurniawan, menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk mengatasi masalah kurangnya atlet lari jarak menengah dan jauh di kalangan pelajar.
“Kami perlu menemukan bakat atlet untuk kami latih dan bisa mengikuti kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Kami berharap melalui acara SiBakul ini, dapat menemukan lebih banyak lagi bakat, khususnya untuk lari 5.000 dan 10.000 meter. Lima atau sepuluh, karena memang Kota Yogyakarta sebagai kota pelajar masih sangat sedikit pelari 5.000/10.000 untuk kategori pelajar,” ujar Fajar.
Ia menyoroti bahwa banyak anak sekolah memiliki catatan waktu yang sangat baik dalam lari jalan—seperti melewati 18 menit untuk jarak 5 kilometer—namun seringkali kalah bersaing karena kompetisi umum tidak membagi kategori berdasarkan usia, sehingga mereka kesulitan mendapatkan posisi teratas.
Untuk menarik perhatian siswa dan memberikan manfaat nyata, prestasi dalam SJSF 2026 tidak hanya dinilai berdasarkan medali, tetapi juga nilai akademik. Acara ini akan diintegrasikan dengan Pusat Prestasi Nasional yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Maka setelah ini, peserta akan didaftarkan ke Pusat Prestasi Nasional, selanjutnya peraih juara 1, 2, dan 3 akan mendapatkan konversi nilai sesuai dengan Peraturan Gubernur. Di DIY, Peraturan Gubernur Nomor 95 mengatur besaran konversi nilai tersebut. Sementara di tingkat kabupaten/kota, aturannya diatur dalam Peraturan Bupati/Wali Kota. Ada acara khusus untuk hal ini. Namun, syaratnya adalah harus terdaftar di Pusat Prestasi Nasional,” tambah Fajar, memastikan PASI Kota akan membantu proses pendataan tersebut.
Artikel Pilar Terkait
BANDUNG – Akses terhadap pendanaan masih menjadi salah satu tantangan utama bagi banyak perusahaan skala menengah yang tengah…
Ringkasan Berita: LDA mengatakan Gusti Moeng datang mengunjungi Ana Muji untuk membicarakan akses Keputren dan Ndalem Ageng terkait…
Beredar video yang menunjukkan dua pria menghampiri seorang penjual toko tas di tepi jalan sambil membawa proposal yang…
Kepri KPA NEWS -–penurunan harga ayam dan telur kembali menghancurkan para peternak unggas di kawasan Soloraya. Sebagai wujud…
Kepri KPA NEWS -— Persebaya Surabaya secara resmi memulai persiapan menghadapi musim 2026/2027 dengan menjalani latihan pertama…
Kepri News – Pernahkah Anda bertanya-tanya, ke mana perginya uang parkir yang Anda bayarkan setiap hari? Apakah uang…
Bandung bukan hanya dikenal sebagai kota pariwisata, tetapi juga sebagai pusat kreativitas dan desain di Indonesia. Semakin tingginya…
OKE FLORES.COM - Berita terkini tentang pendistribusian bantuan sosial (bansos) kembali menarik perhatian masyarakat. Memasuki Juli 2026, pemerintah melalui…
