Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
viral

Hubungan Indonesia-Tiongkok Terbaik dalam Sejarah, Medan Jadi Potensi Kerja Sama

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 27, 2026 · 4 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 4 menit

Kepri KPA BERITA -, BEIJING –Pemerintah Tiongkok menganggap hubungan dengan Indonesia saat ini berada dalam tahap terbaik dalam sejarah.

Bahkan, Kota Medan dianggap memiliki potensi besar dalam memperkuat kerja sama ekonomi antara kedua negara di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Xiang Fangqiang, saat menerima kunjungan rombongan media Indonesia di Beijing, pada hari Kamis (26/6/2026).

Pertemuan yang berlangsung penuh keakraban diadakan guna memperkuat hubungan antar masyarakat serta memberikan pemahaman tentang perkembangan hubungan bilateral Tiongkok dan Indonesia.

Pada presentasinya, Xiang menyatakan bahwa hubungan antara kedua negara terus mengalami perkembangan, ditandai dengan tingginya intensitas komunikasi dan kunjungan dari para pemimpin tingkat tinggi.

Menurutnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah tiga kali berkunjung ke Tiongkok dalam dua tahun terakhir.

“Para pemimpin memiliki ikatan pribadi yang sangat kuat dan tingkat kepercayaan saling yang tinggi. Kami telah mencapai kesepahaman untuk membangun komunitas Tiongkok-Indonesia dengan masa depan yang sama,” kata Xiang.

Ia menjelaskan bahwa hubungan antara kedua negara didirikan berdasarkan lima pilar utama, yaitu kerja sama politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan, dan maritim.

Xiang menyebutkan bahwa Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berurutan.

Selain itu, Tiongkok juga merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia, di mana investasinya kini tidak hanya berfokus di Pulau Jawa, tetapi mulai berkembang ke berbagai wilayah, termasuk Sumatera.

Meski belum pernah mengunjungi Medan, Xiang mengakui memiliki pengetahuan tentang potensi besar yang dimiliki kota ibu provinsi Sumatera Utara tersebut.

“Saya mengenal Medan sebagai kota yang indah. Saya sering mendengar tentang kota tersebut. Di masa depan, saya berharap hubungan ekonomi dengan Medan dapat semakin berkembang,” ujarnya.

Menurut Xiang, penguatan kerja sama dengan wilayah-wilayah di Indonesia akan menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan antara kedua negara.

Xiang mengatakan Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) merupakan salah satu bukti nyata keberhasilan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok.

Menurutnya, proyek tersebut merupakan lambang kerja sama antara dua negara dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI).

Selanjutnya, katanya, Tiongkok dan Indonesia akan menyelaraskan Rencana Pembangunan Lima Tahun ke-15 Tiongkok dengan visi Indonesia Emas 2045.

Kolaborasi ini akan berfokus pada pengembangan kendaraan berenergi baru, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ekonomi digital, serta pengolahan sumber daya alam.

Pada kesempatan tersebut, Xiang juga mengumumkan bahwa pemerintah Tiongkok telah mengeluarkan kebijakan bebas visa transit selama 240 jam atau 10 hari untuk warga negara Indonesia.

Ia berharap kebijakan tersebut mampu menaikkan jumlah wisatawan, pelaku bisnis, serta masyarakat Indonesia yang mengunjungi Tiongkok.

“Gerbang Tiongkok akan semakin terbuka. Kami mengundang lebih banyak teman dari Indonesia untuk datang, melihat langsung, dan merasakan kemajuan Tiongkok,” katanya.

Ia juga menilai bahwa Tiongkok kini lebih terbuka terhadap kunjungan jurnalis, akademisi, dan tokoh agama dari berbagai negara dibandingkan sepuluh tahun yang lalu.

Dalam percakapan dengan rombongan media, Xiang mengajak jurnalis Indonesia untuk tidak hanya mengunjungi Beijing, tetapi juga kota-kota lain seperti Hangzhou dan Shenzhen yang terkenal sebagai pusat inovasi dan teknologi.

“Tiongkok merupakan sebuah negara yang sangat luas, sebagaimana sebuah buku yang tidak akan pernah habis dibaca. Untuk memahaminya, kita perlu melihatnya secara langsung,” ujarnya.

Ia berharap media Indonesia mampu menjadi perantara informasi dengan menyampaikan perkembangan Tiongkok secara seimbang berdasarkan pengalaman lapangan.

Dalam sesi diskusi, Xiang juga menjawab pertanyaan terkait isu umat Muslim di Xinjiang.

Ia menyatakan bahwa pemerintah Tiongkok telah melakukan komunikasi dan kerja sama dengan organisasi Islam di Indonesia, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta rutin mengundang tokoh agama untuk melakukan kunjungan ke Xinjiang.

Menurut Xiang, beberapa tamu dari Indonesia yang mengunjungi daerah tersebut memberikan penilaian positif setelah melihat keadaan langsung.

Ia berpendapat bahwa beberapa liputan media Barat mengenai Xinjiang tidak mencerminkan situasi yang ia deskripsikan secara langsung di lapangan.

Menutup presentasinya, Xiang menganggap Asia masih menjadi kawasan yang memiliki stabilitas serta peluang kerja sama yang besar di tengah perubahan global.

Ia juga memperkenalkan beberapa gagasan yang diajukan Tiongkok dalam skala internasional, yaitu Inisiatif Pembangunan Global (GDI), Inisiatif Keamanan Global (GSI), Inisiatif Peradaban Global (GCI), dan Inisiatif Tata Kelola Global (GGI) sebagai kontribusi terhadap tata kelola global.

“Kami siap berkolaborasi dengan Indonesia untuk meningkatkan rasa persatuan, memperdalam kerja sama, serta memperkuat posisi kedua negara di tingkat regional maupun global,” katanya.

Pertemuan berakhir dengan harapan bahwa hubungan Tiongkok dan Indonesia, termasuk kerja sama dengan daerah-daerah seperti Medan, terus berkembang.

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan juga menyatakan siap membantu menjembatani komunikasi serta memberikan berbagai kesempatan kerja sama antara pemerintah daerah, pelaku bisnis, dan masyarakat dari kedua negara.

(zli/Kepri KPA NEWS -)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti pula informasi lainnya melalui Facebook, Instagram, Twitter, dan Channel WA

Berita populer lainnya di Tribun Medan

Artikel Pilar Terkait