Ringkasan Berita:
- Pameran Warisan Budaya Purba: Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso secara resmi menyelenggarakan acara panggung budaya “Jejak Purba Bondowoso” di Museum Terbuka Megalitikum, Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan.
- Kekayaan Situs Megalitikum: Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bondowoso, Gede Budiawan, menyampaikan bahwa wilayahnya memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa dengan jumlah benda cagar budaya mencapai 1.423 unit.
Jurnalis KOMPASIA.COM, Sinca Ari Pangistu
KOMPASIA.COM, BONDOWOSO– Kabupaten Bondowoso terus berupaya memperbaiki potensi sejarahnya agar mendapat perhatian dari dunia luar.
Sebagai salah satu wilayah yang memiliki konsentrasi situs purbakala paling padat di Jawa Timur, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso menyelenggarakan panggung budaya dengan tema “Jejak Purba Bondowoso”.
Acara yang penuh dengan nilai sejarah ini diselenggarakan di Museum Terbuka Megalitikum Bondowoso, Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, dan direncanakan berlangsung selama dua hari berturut-turut setelah secara resmi dibuka pada Jumat (19/6/2026).
Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Bondowoso, Gede Budiawan, menyampaikan bahwa berdasarkan data terbaru, jumlah benda cagar budaya megalitikum yang ada di wilayah Bumi Ki Ronggo sangat luar biasa, yaitu sebanyak 1.423 unit.
Namun, ia tidak membantah bahwa jumlah yang besar ini menimbulkan tantangan besar (tugas) dalam hal pengemasan promosi dan transformasinya menjadi destinasi wisata edukasi yang bersifat massal.
“Angka lebih dari seribu ini menunjukkan betapa kaya nya warisan megalitikum kita. Namun, tantangan besar dan PR kami saat ini adalah bagaimana terus menyebarkan dan mempromosikannya agar menjadi daya tarik wisata edukasi yang diminati secara luas,” kata Gede Budiawan setelah membuka acara.
Untuk menjaga kelestarian ribuan batu purba tersebut, Disparbudpora tidak bekerja sendirian. Upaya pemeliharaan fisik benda-benda purbakala selama ini dilakukan melalui kerja sama dengan para Juru Pelihara yang berada di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Trowulan, Disparbudprov Jatim, serta tim teknis internal Bondowoso.
Strategi Pendidikan: Gratis Akses Masuk untuk Generasi Muda
Salah satu inisiatif nyata yang dilakukan oleh dinas terkait untuk meningkatkan minat belajar sejarah di kalangan generasi muda adalah dengan menghapus biaya kunjungan ke kawasan Museum Terbuka Pekauman, khususnya bagi siswa sekolah.
Untuk memastikan keberhasilan program ini, Disparbudpora juga telah melakukan kerja sama yang kuat dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso dalam memasukkan kunjungan ke situs sejarah sebagai bagian dari kegiatan luar kelas (outing class).
Fokus utama pemerintah daerah di situs ini adalah aspek pendidikan bagi generasi muda kita. Kami sangat berharap melalui panggung budaya dan partisipasi sekolah, promosi serta pengenalan megalitikum ini dapat berlangsung secara terus-menerus,” ujar Gede.
Warisan Budaya sebagai Sumber Kekuatan Masa Depan
Dukungan penuh terhadap langkah Disparbudpora ini juga diungkapkan oleh Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setda Bondowoso, Nunung Setianingsih. Menurutnya, jejak-jejak peradaban purba, tradisi mulia, kesenian masyarakat, serta nilai kearifan lokal yang masih bertahan di Bondowoso merupakan investasi peradaban yang sangat berharga.
Bagi Nunung, warisan masa lalu tidak boleh hanya disimpan dalam lemari kaca sebagai kenangan yang statis, tetapi harus diubah menjadi sumber inspirasi, bahan pembelajaran, serta kekuatan moral untuk membentuk karakter daerah di masa depan.
“Melalui peningkatan seni, tradisi, dan budaya, kita mampu memperkuat kembali identitas daerah, menumbuhkan rasa percaya diri yang besar di hati generasi muda, serta menyatukan seluruh komponen masyarakat,” ujar Nunung.
Menutup arahannya, Pemerintah Kabupaten Bondowoso memberikan penghargaan yang tinggi kepada seluruh komunitas seni, akademisi, penggiat cagar budaya, serta jurnalis yang selama ini setia menjaga sejarah lokal.
“Pelindungan budaya tidak akan pernah berhasil jika hanya dianggap sebagai tanggung jawab pemerintah saja. Hal ini memerlukan kerja sama yang kuat, serta semangat gotong royong antara pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, pelaku bisnis, media, dan seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Artikel Pilar Terkait
Kepri News – Pernahkah Anda bertanya-tanya, ke mana perginya uang parkir yang Anda bayarkan setiap hari? Apakah uang…
KABAR BANTEN -Pemerintah Kabupaten Serang mulai mendistribusikan dana Bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (BHPRD) yang belum…
Ringkasan Berita: Nyimas Laula mendapat perhatian publik setelah video di mana dia menegur seorang pria di gym Bali…
Kepri KPA NEWS -- Dua keluarga yang menolak pindah dari rumah sewa di wilayah Genteng, Surabaya,…
Ringkasan Berita: Kedai Noodle Kisamen di Cirebon memperkenalkan inovasi minuman yang menggunakan bahan dasar ube atau ubi ungu.…
Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika pengelolaan parkir di Kabupaten Karimun menjadi sorotan publik. Di tengah berbagai narasi yang…
Ringkasan Berita: Persatuan Perawat Indonesia (PPI) Cabang Kota Sorong merayakan hari ulang tahun yang ke-75 di Gedung L…
