Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
sosial

Melihat Kemajuan HPAL dan Dermaga di Sambalagi Morowali

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 27, 2026 · 4 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 4 menit

KPA NEWS -.CO.ID –Angin panas berhembus kencang saat KPA NEWS tiba di kawasan industri Sambalagi. Perjalanan yang dilakukan oleh tim Jelajah Hilirisasi KPA NEWS melalui jalur darat untuk sampai ke lokasi proyek Sambalagi sekitar 4 jam dari kawasan Bahodopi.

Bersama dengan titik proyek Bahodopi, Sambalagi tergabung dalam proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.

Kawasan industri Sambalagi terletak di Kecamatan Bungku Pesisir, Morowali, Sulawesi Tengah. Selain berdekatan dengan pantai, Sambalagi berada dalam wilayah PT International Green Industrial Park (IGIP).

Dalam rencana yang ambisius, IGIP mengemukakan visi untuk menciptakan kawasan industri bebas karbon (net-zero carbon park) yang dirancang sebagai pusat pengembangan industri berkelanjutan di Indonesia.

Di sini juga, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan antara PT Vale dan mitranya, GEM Co Ltd, perusahaan besar daur ulang asal Tiongkok sedang mengembangkan proyek kawasan industri serta pengolahan nikel berkarbon rendah yaitu fasilitas pengolahan berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang saat ini terus dikembangkan. Namun memang, saat KPA NEWS berkunjung, keseluruhan perkembangannya baru mencapai 35%.

Dalam paparannya, Khristya Pramitha, Project Engineer Bahodopi HPAL PT Vale menyampaikan bahwa kawasan industri ini dirancang mampu menghasilkan nikel sebanyak 66.000 ton setiap tahunnya. Agar mencapai kapasitas tersebut, pabrik dibagi menjadi tiga jalur produksi yang dikenal sebagai Line A, Line B, dan Line C.

“Setiap jalur memiliki kapasitas sekitar 20.000 ton nikel per tahun. Pembangunan pabrik diharapkan mencapai tahap pertama penyelesaian mekanis pada akhir 2026, sebagai langkah awal menuju tahapan pengujian dan operasional berikutnya,” ujar Khristya kepada KPA NEWS -, pada Minggu (14/6/2026).

Meskipun secara keseluruhan perkembangan proyek HPAL masih di bawah 50%, namun fondasi utama area pengembangan proyek HPAL dan fasilitas pasca-pemrosesan sudah mencapai sekitar 80%. Pembangunan berbagai fasilitas pendukung juga sedang berlangsung secara bersamaan.

Berbagai perangkat utama masih dalam proses pengiriman. Oleh karena itu, fokus pekerjaan saat ini berada pada pembuatan fondasi dan struktur pendukung agar ketika peralatan tiba, pemasangan bisa segera dimulai.

Selanjutnya, dijelaskan bahwa semua pasokan bahan baku proyek ini akan berasal dari kawasan Vale di Bahodopi. Dalam satu tahun, sekitar 10,4 juta ton bijih limonite akan diproses untuk menghasilkan sekitar 66.000 ton nikel dalam bentuk MHP.

Produk MHP berupa campuran nikel dan kobalt, di mana kadar nikel lebih mendominasi sekitar 30% dari keseluruhan berat produk.

Pada tahap awal, produk MHP masih akan diimpor. Namun pemegang saham utama, GEM, memiliki rencana jangka panjang untuk mengembangkan industri yang lebih lanjut, mulai dari bahan baku baterai, material aktif katoda (PCAM), hingga fasilitas daur ulang baterai.

Khristya juga menyampaikan bahwa autoclave yang dipasang masih diimpor dari Tiongkok. Autoclave ini adalah tempat yang dilalui bijih limonite yang sebelumnya dikumpulkan di fasilitas ore feeding plant.

Di lokasi ini, bijih disimpan, dihancurkan, dicuci, dan dipersiapkan sebelum memasuki proses pemanasan bertekanan tinggi.

Sebagai informasi, proses HPAL beroperasi pada suhu sekitar 200 derajat Celsius dan tekanan tinggi dengan menggunakan asam sulfat. Dengan proses ini, logam nikel dan kobalt dipisahkan dari material pembawanya.

Dalam penggunaan listrik untuk menjalankan aktivitas di kawasan industri ini, proyek yang berada di Sambalagi akan memanfaatkan infrastruktur Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

“Oleh karena itu, panas sisa dari proses pembakaran sulfur tidak dibuang begitu saja, tetapi digunakan kembali untuk menghasilkan energi listrik,” tambahnya.

Kemampuan listrik sistem ini diperkirakan mencapai 40-45 MW, angka yang dianggap memadai untuk memenuhi kebutuhan operasional BNSI. Vale tidak menyembunyikan bahwa harga yang tinggi membuatnya tidak memilih LNG sebagai pilihan utama.

Manajer kawasan juga merencanakan pembangunan pusat pembangkit listrik tenaga surya sekitar 30 MW, di mana panel-panel matahari akan dipasang di area bendungan serta di atas fasilitas tailing yang sudah penuh dan tertutup. Tindakan ini dianggap sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan proporsi energi yang lebih ramah lingkungan.

Selanjutnya, dari sisi penggunaan air yang melimpah untuk fasilitas HPAL, Vale menyatakan bahwa kebutuhan airnya akan dipenuhi dari waduk yang sudah tersedia di Sungai Bokulu, sebagai tahap awal. Namun dalam jangka panjang, kawasan industri berencana membangun bendungan dengan kapasitas yang lebih besar.

Saat melakukan perjalanan di kawasan tersebut, Vale Indonesia menyatakan bahwa batu kapur juga berperan penting dalam proses produksi nikel, selain air. Alangkah baiknya, wilayah ini memiliki persediaan batu kapur yang cukup melimpah.

Selain itu, karena area proyek Sambalagi berdekatan dengan pantai, pembangunan dermaga juga akan dilakukan untuk mendukung aktivitas logistik.

Sebagai penyewa di kawasan industri yang dioperasikan oleh IGIP, BNSI berencana membangun delapan dermaga khusus guna mendukung kegiatan bongkar muat bijih. Keberadaan infrastruktur ini diharapkan dapat memperkuat posisi kawasan Sambalagi sebagai salah satu pusat logistik mineral utama di Indonesia.

Untuk pengembangan infrastruktur tailing, desain yang dibuat memanfaatkan kondisi topografi alami di lokasi tersebut. Sebagai tambahan informasi, tailing merupakan sisa hasil dari proses High Pressure Acid Leaching (HPAL).

“Pada saat ini, desain fasilitas tersebut masih berada dalam tahap pengujian tanah dan analisis teknis. Vale Indonesia juga melakukan peninjauan terhadap rancangan yang dibuat,” kata Khristya.

Ia menyebutkan bahwa konstruksi area pertama direncanakan dimulai pada Agustus 2026, sementara sebagian fasilitas diharapkan siap pada tahap awal sesuai dengan perkembangan yang direncanakan pada 2027.

Selain sarana produksi, BNSI juga mengembangkan berbagai fasilitas pendukung untuk karyawan, seperti asrama, perumahan, masjid, lapangan olahraga, jalur lari, hingga area hiburan.

Saat ini, proyek Sambalagi melibatkan puluhan ribu pekerja yang terdiri dari tenaga kerja lokal dan tenaga kerja asing (TKA). Susunan tenaga kerja ini akan terus disesuaikan sesuai dengan kebutuhan proyek di setiap tahap pengembangannya.

Artikel Pilar Terkait