Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
olahraga

40 Persen Gaji Guru Honorer untuk Transportasi, Rentan Sebabkan Burnout

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 29, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

Kepri KPA NEWS –– Usaha meningkatkan kesejahteraan guru di Indonesia ternyata tidak cukup hanya berfokus pada besaran angka di slip gaji saja.

Terdapat faktor penting yang selama ini tidak mendapat perhatian masyarakat, yaitu akses dan biaya transportasi harian guru dari rumah ke ruang kelas.

Kurangnya keterhubungan transportasi di berbagai wilayah dianggap sebagai salah satu penyebab utama yang menguras tenaga fisik, pikiran, hingga isi dompet para pahlawan tanpa tanda jasa ini.

Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata yang juga menjadi Anggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menyatakan bahwa aspek mobilitas harian berpengaruh terhadap kesejahteraan para guru.

Menurutnya, kendala transportasi semakin menghimpit bagi guru honorer yang memiliki penghasilan terbatas serta mereka yang bertugas di wilayah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan).

Biaya Transportasi Menghabiskan Hampir Setengah Penghasilan

Bagi guru-guru di kawasan perkotaan, ketidakhadiran layanan transportasi umum yang terkoordinasi memaksa mereka untuk menggunakan kendaraan pribadi atau layanan ojek daring.

Akibatnya, biaya bulanan untuk bahan bakar dan perawatan kendaraan meningkat secara signifikan.

“Guru honorer yang menerima penghasilan antara Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta setiap bulan harus menghabiskan 20 persen hingga 40 persen dari gajinya hanya untuk biaya transportasi seperti bensin atau ojek online jika sekolahnya tidak bisa diakses melalui angkutan umum,” kata Djoko, Senin (29/6).

Kondisi yang jauh lebih parah dialami oleh para guru di wilayah kepulauan seperti Maluku, Maluku Utara, atau Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kurangnya armada menyebabkan biaya transportasi lokal meningkat tajam. Dalam menjalankan tugas, guru sering kali harus menyewa speedboat atau kendaraan darat khusus yang menghabiskan lebih dari 50 persen tunjangan daerah terpencil mereka.

Kelelahan Saat Berjalan Mengurangi Kualitas Pengajaran

Selain dampak finansial, aspek psikologis para guru juga terkena pengaruh. Kemacetan yang parah di kota-kota besar serta jalur berat di daerah pedalaman menguras energi guru sejak pagi hari.

Perjalanan yang melelahkan ini menyebabkan para guru mudah mengalami kelelahan mental atau burnout ketika tiba di sekolah.

Jika kondisi tubuh sudah lemah sebelum memasuki kelas, kualitas penyampaian ilmu pasti akan terganggu.

Kemampuan kesabaran dalam membimbing siswa serta kreativitas dalam menyusun bahan ajar secara alami mengalami penurunan.

Karena itu, transportasi yang aman dan dapat diandalkan menjadi jaminan mutlak agar guru dapat mengajar dalam kondisi terbaik.

Taruhannya Jiwa di Jalur Ekstrem dan Ketidakseimbangan Kualitas

Sampai saat ini, penderitaan masih terus menghantui para guru di daerah terpencil Nusantara. Untuk memajukan generasi bangsa, banyak guru yang rela menyeberangi sungai yang deras menggunakan perahu sederhana.

Beberapa di antara mereka harus melewati jalan yang sangat rusak dan membahayakan nyawa. Rasa cemas yang terus-menerus ini secara perlahan mengurangi kualitas kehidupan mereka.

Dampak berantai akibat akses yang buruk ini adalah semakin melebarnya kesenjangan kualitas pendidikan.

Pemerintah sering mengalami kesulitan dalam mendistribusikan guru-guru berprestasi ke wilayah terpencil akibat kondisi isolasi geografis.

Sebaliknya, wilayah yang memiliki keterhubungan transportasi yang rutin, baik melalui darat, laut, maupun udara, jauh lebih mudah dalam mempertahankan guru berkualitas agar tetap nyaman bekerja.

Diperlukan Tarif Khusus untuk Transportasi dan Angkutan Perintis

Mengingat tingkat kesulitan permasalahan ini, Djoko mengajak pemerintah segera melakukan tindakan intervensi melalui kebijakan yang terpadu.

Kesejahteraan para guru perlu dipandang sebagai sebuah sistem ekologis yang utuh. bukan hanya terbatas pada gaji, tetapi juga berbagai faktor lainnya.

“Pengadaan subsidi transportasi umum di kota melalui tarif khusus fungsional untuk guru, serta perluasan jaringan angkutan perintis di daerah kepulauan dan 3TP merupakan tindakan nyata dari pemerintah,” katanya.

Menghargai profesi guru ternyata tidak cukup hanya dengan menawarkan kenaikan gaji yang tertulis.

Negara harus hadir untuk mempermudah akses mobilitas mereka guna mencapai efisiensi ekonomi dan kenyamanan dalam bekerja.

Karena, perjalanan panjang dalam memajukan bangsa harus dimulai dengan memastikan para guru tiba di kelas dengan senyuman dan kondisi penuh semangat.

Artikel Pilar Terkait