Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
olahraga

Jalur Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Mentah Diprediksi Turun

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 28, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

Kepri KPA NEWS – CO.ID – JAKARTAHarga minyak mentah dunia diperkirakan mengalami penurunan setelah Selat Hormuz kembali beroperasi sebagai jalur pengiriman minyak mentah global.

Mengutip data dari Trading Economics, harga minyak mentah WTI mencapai angka US$ 69,23 per barel pada hari Jumat (26/6). Selama sebulan terakhir, harga ini mengalami penurunan sebesar 21,93%.

Departemen Penelitian dan Pengembangan ICDX, Taufan Dimas Hareva menyebutkan, harga minyak mengalami penurunan karena adanya sentimen dari ancaman Irak untuk meninggalkan konsorsium OPEC, serta pemulihan ekspor Aramco di pelabuhan Ras Tanura.

Namun demikian, kondisi di Selat Hormuz yang kembali memburuk berperan sebagai pemicu yang menghambat penurunan harga lebih lanjut.

Perdana Menteri Irak yang baru, Ali al-Zaidi, menyatakan bahwa Irak sedang mempertimbangkan untuk mengikuti langkah Uni Emirat Arab keluar dari OPEC, jika aliansi tersebut tidak memberikan izin untuk meningkatkan produksi minyak Baghdad secara signifikan.

“Ancaman ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan pasokan karena akan memungkinkan Irak, sebagai produsen terbesar kedua di OPEC, untuk meningkatkan produksi secara signifikan, terutama setelah OPEC sebelumnya kehilangan produsen ketiga terbesar, Uni Emirat Arab, pada bulan April,” kata Taufan kepada Kepri KPA NEWS, Jumat (26/6/2026).

Selain itu, yang turut memperberat harga adalah pernyataan Saudi Aramco pada hari Jumat bahwa mereka akan kembali melanjutkan pemuatan minyak di terminal Ras Tanura setelah berhenti selama hampir empat bulan. Data pengiriman menunjukkan dua kapal supertanker terlihat mengisi minyak mentah di terminal Teluk, sementara satu kapal lainnya sedang menunggu di sekitarnya.

Badai mengungkapkan Organisasi Maritim Internasional PBB yang mengumumkan penangguhan sementara operasi pengawalan kapal melalui Selat Hormuz setelah laporan sebuah kapal kargo terkena proyektil asing di dekat Oman. Dua pejabat Amerika Serikat menuduh serangan tersebut dilakukan oleh Iran.

Merupakan tanggapan terhadap tuduhan tersebut, otoritas Iran menyatakan bahwa keamanan kapal yang melintasi di luar jalur Hormuz yang telah ditetapkan tidak dapat dijamin. Keadaan ini kembali menimbulkan keraguan tentang apakah kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran akan tetap berlangsung.

Dukungan lainnya datang dari beberapa sumber Israel yang menolak pernyataan AS sebelumnya bahwa Israel telah mengeluarkan pasukannya dari zona penyangga di wilayah selatan Lebanon. Seperti pernyataan Israel, seorang pejabat keamanan senior Lebanon menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya pengunduran pasukan Israel sesuai klaim yang disampaikan AS.

“Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran akan memicu kembali konflik yang dapat mengganggu perjanjian damai antara AS dan Iran saat ini,” ujar Taufan.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, meskipun situasi di Timur Tengah sedang memburuk, Selat Hormuz tetap beroperasi. Hal ini kemungkinan besar mencegah kenaikan harga minyak mentah karena transportasi telah kembali normal. Ibrahim menyebutkan bahwa saat ini terjadi kelebihan pasokan minyak mentah, sehingga harga mengalami penurunan.

“Di sisi lain, produksi minyak mentah Venezuela tidak terganggu oleh gempa bumi karena dampaknya tidak sampai ke kilang-kilang yang ada. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah cenderung turun,” ujar Ibrahim.

Ibrahim memprediksi perasaan yang berdampak pada harga minyak mentah di masa depan, termasuk dinamika politik global hingga pasokan dan permintaan.

Badai memperkirakan harga minyak berpotensi menghadapi tingkat resistensi terdekat di posisi US$ 74 per barel dan bisa turun ke tingkat dukungan terdekat di US$ 69 per barel. Sementara itu, Ibrahim memprediksi harga minyak mentah hingga kuartal III tahun 2026 berada pada level US$ 70 per barel.

Artikel Pilar Terkait