Jumat, 21 Agustus 2026Indonesia
kepri.kompasia.com
BINTAN

DPRD DKI Dukung Parkir Ojol, Minta Tidak Hanya di Kawasan Perkantoran

Oleh Redaksi Kompasia · Juni 26, 2026 · 3 menit baca Verified Publisher
Estimasi waktu baca: 3 menit

Berita KPA Kepri, Jakarta– Anggota DPRD DKI Jakarta Muhamad Alfatih menyambut baik rencana Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta yang akan bekerja sama dengan komunitas ojek online (ojol), perusahaan aplikasi, serta pengelola gedung dalam menyediakan area parkir khusus untuk pengemudi ojol.

Menurut Alfatih, tindakan tersebut perlu segera diwujudkan karena dinilai mampu menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan akibat pengemudi ojek online yang berhenti atau menunggu penumpang di tengah jalan.

Saya menyambut baik rencana pembuatan tempat parkir khusus untuk pengemudi ojek online. Program ini harus segera diwujudkan karena dapat menjadi solusi nyata dalam mengurangi kemacetan yang sering terjadi akibat kendaraan ojol berhenti atau menunggu penumpang di sembarang tempat,” ujar Alfatih, Jumat (26/6/2026).

Namun demikian, ia menekankan bahwa penyediaan tempat parkir tidak boleh hanya terbatas pada area perkantoran atau pusat perbelanjaan.

Menurutnya, pemerintah juga sebaiknya menyediakan ruang tunggu dan area parkir di tempat-tempat yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, seperti terminal, stasiun, halte angkutan umum, rumah sakit, serta pusat layanan publik.

“Area-area yang memiliki aktivitas tinggi juga perlu mendapat perhatian. Sebelumnya, penumpukan kendaraan online di terminal, stasiun, halte, rumah sakit, maupun pusat layanan publik menyebabkan kemacetan lalu lintas. Oleh karena itu, fasilitas serupa harus disediakan di lokasi-lokasi tersebut,” katanya.

Alfatih juga memanggil para pemilik gedung untuk turut serta berkontribusi menyediakan tempat parkir yang layak bagi pengemudi ojek online sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran lalu lintas di Ibu Kota.

Ia menganggap keberhasilan program tersebut tergantung pada kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pengelola gedung, hingga perusahaan yang menyediakan layanan transportasi berbasis aplikasi.

Kolaborasi menjadi hal krusial agar kebijakan ini dapat berjalan dengan baik. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Pengelola gedung dan pengelola aplikasi juga harus turut serta dalam menyediakan fasilitas yang memadai bagi para pengemudi, katanya.

Selain area parkir, Alfatih juga mendorong perusahaan aplikator untuk meningkatkan jumlah shelter atau ruang tunggu ojol yang terhubung, khususnya di daerah yang rentan kemacetan dan fasilitas umum milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Menurutnya, kehadiran shelter akan membuat proses menunggu penumpang lebih teratur serta mengurangi gangguan terhadap lalu lintas kendaraan.

“Kehadiran shelter yang terorganisir akan memberikan tempat menunggu yang jelas bagi pengemudi, sehingga kegiatan penjemputan penumpang menjadi lebih aman, teratur, dan tidak mengganggu arus lalu lintas,” ujarnya.

Meskipun mendukung pengadaan fasilitas tersebut, Alfatih memperingatkan agar area parkir tidak digunakan secara sembarangan sebagai tempat parkir gratis dalam jangka waktu yang lama atau dimanfaatkan di luar fungsi utamanya.

Oleh karena itu, ia menuntut adanya peraturan yang jelas, pengawasan yang terus-menerus, serta komitmen dari semua pihak agar fasilitas tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk memfasilitasi kelancaran pergerakan.

“Kantong parkir harus dimanfaatkan sesuai tujuannya. Oleh karenanya diperlukan aturan yang jelas, pengawasan yang memadai, serta komitmen bersama agar fasilitas ini benar-benar bermanfaat bagi kelancaran lalu lintas,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Alfatih mengajak para pengemudi ojol untuk menjaga kebersihan, ketertiban, serta kenyamanan shelter dan area parkir yang akan disediakan.

Ia berharap adanya disiplin budaya dapat berjalan seiring dengan penyediaan fasilitas agar manfaatnya bisa dinikmati oleh masyarakat secara luas.

Saya juga mengajak seluruh pengemudi ojek online untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan ketertiban di area shelter maupun kantong parkir. Ketersediaan fasilitas yang memadai perlu diimbangi dengan disiplin agar Jakarta menjadi kota yang lebih rapi, nyaman, serta terhindar dari kemacetan yang tidak perlu,” tuturnya.

Berita Lainnya

Baca berita Kepri KPA NEWS – lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Artikel Pilar Terkait