KOMPASIA.COM.CO.ID – JAKARTA.Bank Indonesia (BI) mengkhawatirkan berbagai faktor yang berpotensi meningkatkan inflasi dalam beberapa bulan mendatang, mulai dari peningkatan harga global atauimported inflation hingga risiko gangguan cuaca yang disebabkan oleh fenomena El Nino yang diperkirakan akan terjadi pada paruh kedua tahun ini.
Wakil Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menyatakan, meskipun inflasi saat ini masih berada dalam batas target, tekanan dari faktor luar dan cuaca perlu diwaspadai lebih awal agar tidak mengganggu kestabilan harga.
Faktor risiko inflasi yang menjadi perhatian adalah penyebaran kenaikan harga global, seperti harga minyak dan komoditas yang masuk ke dalam negeri atauimported inflation. Yang kedua, ini belum terjadi tetapi kita sudah alert untuk menghadapinya, yaitu gangguan cuaca,” kata Aida dalam konferensi pers, tidak lama yang lalu.
Menurut Aida, dampak imported inflation dapat terlihat pada kelompok administered pricesatau harga yang ditetapkan pemerintah, khususnya setelah terjadinya penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Ia memperkirakan perubahan harga energi tersebut berkontribusi sekitar 0,25% terhadap tingkat inflasi.
Selain itu, tekanan juga bisa muncul di dalam kelompok Selain itu, tekanan dapat timbul pada suatu kelompok Selain itu, tekanan juga bisa muncul dalam kelompok tersebut Selain itu, tekanan bisa muncul pada kelompok tertentu Selain itu, tekanan juga bisa muncul di kalangan kelompok Selain itu, tekanan bisa terjadi pada kelompok tersebut Selain itu, tekanan juga muncul di dalam kelompok Selain itu, tekanan bisa muncul pada kelompok yang bersangkutan Selain itu, tekanan juga bisa muncul dalam lingkungan kelompok Selain itu, tekanan bisa muncul pada kelompok yang adavolatile foodatau komoditas pangan yang tidak stabil. Namun, risiko di sisi pupuk dianggap masih rendah karena kemampuan produksi dalam negeri masih memadai.
Di sisi lain, risiko cuaca menjadi fokus utama seiring meningkatnya kemungkinan El Nino yang diperkirakan terjadi mulai akhir Juni hingga Oktober atau November 2026.
Namun demikian, Aida menekankan bahwa berbagai tindakan pencegahan telah disiapkan melalui kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah.
“Proyeksi inflasi memang mulai meningkat, namun secara keseluruhan masih berada dalam target inflasi 2,5% dengan toleransi 1%. Jadi maksimal 3,5% dan itu masih dalam batas yang ditentukan,” ujarnya.
Senada, Wakil Gubernur Bank Indonesia Ricky Perdana Gozali mengatakan inflasi nasional pada Mei 2026 mencapai 3,08% secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia. Namun, inflasi kelompokvolatile foodmencapai 6,24% year on year dan menjadi fokus utama karena dampaknya paling terasa oleh masyarakat di wilayah tersebut.
Kami mengamati beberapa faktor risiko yang mungkin memberikan tekanan inflasi di masa mendatang, yaituimported inflationdan faktor iklim,” kata Ricky.
Berdasarkan pengawasan Bank Indonesia, sebanyak 25 provinsi masih mencatat inflasi dalam kisaran target pada Mei 2026. Meskipun demikian, terdapat 13 provinsi yang mulai menunjukkan peningkatan inflasi dan mendapatkan perhatian khusus, seperti Papua Barat dengan tingkat inflasi 5,94%, Aceh sebesar 5,12%, serta Kalimantan Tengah dengan angka 4,55%.
Ricky mengungkapkan, tekanan inflasi ini telah menyebabkan kenaikan harga beberapa komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. Bahaya ini berpotensi memburuk jika El Nino mengurangi hasil pertanian, khususnya di daerah Indonesia Timur.
“Intensitas El Nino diprediksi akan meningkat dan berpotensi mengurangi hasil produksi tanaman hortikultura di beberapa daerah, khususnya wilayah Indonesia Timur,” katanya.
Untuk mengurangi dampaknya, Bank Indonesia bekerja sama dengan 46 kantor perwakilan di berbagai daerah dalam memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Ricky mengatakan langkah tersebut dilakukan antara lain melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) untuk menjaga ketersediaan, mempercepat distribusi, serta menstabilkan harga bahan pangan.
Di sisi kebijakan, BI juga menegaskan tetap akan mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah serta inflasi melalui kombinasi kebijakan moneter yang konsisten. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, dan dukungan terhadap sektor riil akan terus diarahkan guna menjaga laju pertumbuhan ekonomi.
Aida menegaskan, Bank Indonesia telah menyusun beberapa langkah guna mendukung pertumbuhan ekonomi, antara lain menjaga aliran dana dalam perekonomian, memberikan berbagai insentif likuiditas makroprudensial (KLM), mengendurkan instrumen makroprudensial, mempercepat proses digitalisasi sistem pembayaran, serta memperkuat penguatan UMKM dan perekonomian yang inklusif.
Melalui berbagai langkah yang diambil, BI yakin risiko inflasi akibat ketidakstabilan global maupun El Nino bisa dikendalikan, sehingga tingkat inflasi tetap berada dalam batas target sepanjang tahun ini.
Artikel Pilar Terkait
As urbanization accelerates and smart mobility becomes a global priority, barrier gate systems have evolved from simple access…
Kepri KPA NEWS -–penurunan harga ayam dan telur kembali menghancurkan para peternak unggas di kawasan Soloraya. Sebagai wujud…
Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, masyarakat Indonesia semakin cerdas dan selektif dalam mengelola aset mereka.…
Kepri News – Pernahkah Anda bertanya-tanya, ke mana perginya uang parkir yang Anda bayarkan setiap hari? Apakah uang…
Bandung bukan hanya dikenal sebagai kota pariwisata, tetapi juga sebagai pusat kreativitas dan desain di Indonesia. Semakin tingginya…
Ringkasan Berita: Persatuan Perawat Indonesia (PPI) Cabang Kota Sorong merayakan hari ulang tahun yang ke-75 di Gedung L…
Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika pengelolaan parkir di Kabupaten Karimun menjadi sorotan publik. Di tengah berbagai narasi yang…
Ringkasan Berita: Sarwendah dikabarkan meminta nafkah anak dengan metode penggantian biaya melalui tagihan bulanan. Pihak Ruben menganggap besaran…
